Amanah

Mei 22, 2010

Rasulullah saw. bersabda, “Tiada iman pada orang yang tidak
menunaikan amanah; dan tiada agama pada orang yang tidak
menunaikan janji.” (Ahmad dan Ibnu Hibban)

Amanah adalah kata yang sering dikaitkan dengan kekuasaan dan
materi. Namun sesungguhnya kata amanah tidak hanya terkait dengan
urusan-urusan seperti itu. Secara syar’i, amanah bermakna: menunaikan
apa-apa yang dititipkan atau dipercayakan. Itulah makna yang terkandung
dalam firman Allah swt.: “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian
untuk menunaikan amanah-amanah kepada pemiliknya; dan apabila kalian
menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kalian menetapkan hukum
dengan adil.” (An-Nisa: 58)

Ayat di atas menegaskan bahwa amanah tidak melulu menyangkut
urusan material dan hal-hal yang bersifat fisik. Kata-kata adalah amanah.
Menunaikan hak Allah adalah amanah. Memperlakukan sesama insan
secara baik adalah amanah. Ini diperkuat dengan perintah-Nya: “Dan
apabila kalian menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kalian
menetapkan hukum dengan adil.” Dan keadilan dalam hukum itu
merupakan salah satu amanah besar.

Itu juga diperjelas dengan sabda Rasulullah saw., “Setiap kalian adalah
pemimpin dan karenanya akan diminta pertanggungjawaban tentang
kepemimpinannya. Amir adalah pemimpin dan akan diminta
pertanggungjawaban tentang mereka. Lelaki adalah pemimpin di tengah
keluarganya dan ia akan diminta pertanggungjawaban tentang mereka.
Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan atas anak-anaknya
dan ia akan diminta pertanggungjawaban tentangnya. Seorang hamba
adalah pemimpin atas harta tuannya dan ia akan diminta pertanggungjawaban
tentang itu. Dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban tentang
kepemimpinannya.” (Muttafaq ‘Alaih)

Dan Allah swt. berfirman: “Sesungguhnya Kami menawarkan amanah
kepada langit, bumi, dan gunung-gunung. Namun mereka menolak dan
khawatir untuk memikulnya. Dan dipikullah amanah itu oleh manusia.
Sesungguhnya manusia itu amat zhalim lagi amat bodoh.” (Al-Ahzab 72)

Dari nash-nash Al-Qur’an dan sunnah di atas nyatalah bahwa amanah tidak
hanya terkait dengan harta dan titipan benda belaka. Amanah adalah urusan
besar yang seluruh semesta menolaknya dan hanya manusialah yang diberikan
kesiapan untuk menerima dan memikulnya. Jika demikian, pastilah amanah
adalah urusan yang terkait dengan jiwa dan akal. Amanah besar yang
dapat kita rasakan dari ayat di atas adalah melaksanakan berbagai
kewajiban dan menunaikannya sebagaimana mestinya.

Amanah dan Iman

Amanah adalah tuntutan iman. Dan khianat adalah salah satu ciri kekafiran.
Sabda Rasulullah saw. sebagaimana disebutkan di atas menegaskan hal itu,
“Tiada iman pada orang yang tidak menunaikan amanah; dan tiada agama
pada orang yang tidak menunaikan janji.” (Ahmad dan Ibnu Hibban)

Barang siapa yang hatinya kehilangan sifat amanah, maka ia akan menjadi
orang yang mudah berdusta dan khianat. Dan siapa yang mempunyai sifat
dusta dan khianat, dia berada dalam barisan orang-orang munafik.
Disia-siakannya amanah disebutkan oleh Rasulullah saw. sebagai
salah satu ciri datangnya kiamat. Sebagaimana disampaikan Abu Hurairah
–semoga Allah meridhainya–, Rasulullah saw. bersabda, “Jika amanah
diabaikan maka tunggulah kiamat.” Sahabat bertanya, “Bagaimanakah
amanah itu disia-siakan, wahai Rasulullah?” Rasulullah saw. menjawab,
“Jika suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah
kehancuran.” (Al-Bukhari)

Macam-macam Amanah

Pertama, amanah fitrah. Dalam fitrah ada amanah. Allah menjadikan
fitrah manusia senantiasa cenderung kepada tauhid, kebenaran, dan
kebaikan. Karenanya, fitrah selaras betul dengan aturan Allah yang
berlaku di alam semesta. Allah swt. berfirman: “Dan ingatlah ketika
Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka
dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):
“Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul, (Engkau
Tuhan kami) kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu)
agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami
(bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).”
(Al-A’raf: 172)

Akan tetapi adanya fitrah bukanlah jaminan bahwa setiap orang akan selalu
berada dalam kebenaran dan kebaikan. Sebab fitrah bisa saja terselimuti
kepekatan hawa nafsu dan penyakit-penyakit jiwa (hati). Untuk itulah
manusia harus memperjuangkan amanah fitrah tersebut agar fitrah tersebut
tetap menjadi kekuatan dalam menegakkan kebenaran.

Kedua, amanah taklif syar’i (amanah yang diembankan oleh syari’at).
Allah swt. telah menjadikan ketaatan terhadap syariatnya sebagai batu ujian
kehambaan seseorang kepada-Nya. Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya
Allah telah menetapkan fara-idh (kewajiban-kewajiban), maka janganlah
kalian mengabaikannya; menentukan batasan-batasan (hukum), maka
janganlah kalian melanggarnya; dan mendiamkan beberapa hal karena
kasih sayang kepada kalian dan bukan karena lupa.” (hadits shahih)

Ketiga, amanah menjadi bukti keindahan Islam. Setiap muslim mendapat
amanah untuk menampilkan kebaikan dan kebenaran Islam dalam dirinya.
Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang menggariskan sunnah yang
baik maka dia mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang rang yang
mengikutinya tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun.” (Hadits shahih)

Keempat, amanah dakwah. Selain melaksanakan ajaran Islam,
seorang muslim memikul amanah untuk mendakwahkan (menyeru)
manusia kepada Islam itu. Seorang muslim bukanlah orang yang merasa
puas dengan keshalihan dirinya sendiri. Ia akan terus berusaha untuk
menyebarkan hidayah Allah kepada segenap manusia. Amanah ini tertuang
dalam ayat-Nya: “Serulah ke jalan Rabbmu dengan hikmah dan nasihat
yang baik.” (An-Nahl: 125)

Rasulullah saw. juga bersabda, “Jika Allah memberi petunjuk kepada
seseorang dengan usaha Anda, maka hal itu pahalanya bagi Anda lebih
dibandingkan dengan dunia dan segala isinya.” (al-hadits)

Kelima, amanah untuk mengukuhkan kalimatullah di muka bumi.
Tujuannya agar manusia tunduk hanya kepada Allah swt. dalam
segala aspek kehidupannya. Tentang amanah yang satu ini, Allah swt.
menegaskan: “Allah telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama
apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami
wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wahyukan kepada Ibrahim,
Musa, dan Isa, yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kalian
berpecah-belah tentangnya.” (Asy-Syura: 13)

Keenam, amanah tafaqquh fiddin (mendalami agama). Untuk dapat
menunaikan kewajiban, seorang muslim haruslah memahami Islam.
“Tidaklah sepatutnya bagi orang-orang yang beriman itu pergi semuanya
(ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara
mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka
tentang agama.” (At-Taubah: 122)

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara
kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa dia sungguh-sungguh
akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah
menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan
meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka,
dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka
dalam ketakutan menjadi aman sentosa. mereka tetap menyembahku-Ku
dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku.
Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka
itulah orang-orang yang fasik.” (An-Nur: 55)


http://www.dakwatuna.com/index.php/sunnah-nabawiyah/syarah-hadits/2007/amanah/

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe