Borobudur

Agustus 19, 2010















Borobudur adalah nama sebuah candi budha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Lokasi candi kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Candi ini didirikan oleh para penganut agama budha Mahayana sekitar tahun 800-an masehi pada masa pemerintahan wangsa syailendra.

Banyak teori yang berusaha menjelaskan nama candi ini. Salah satunya menyatakan bahwa nama ini kemungkinan berasal dari kata “Sambharabhudhara” yang artinya “gunung” (bhudhara) di mana lereng-lerengnya terletak teras-teras. Selain itu terdapat beberapa etimologi rakyat lainnya. Misalnya kata borobudur berasal dari ucapan “para budha” yang karena pergeseran bunyi menjadi borobudur.
Penjelasan lain ialah dari arti nama borobudur yaitu “biara di perbukitan” yang berasal dari kata “bara” (candid an biara) dan “beduhur” (perbukitan atau tempat tinggi) dalam bahasa Sansekerta. Karena itu, sesuai dengan arti nama borobudur, maka tempat ini sejak dahulu di gunakan sebagai tempat ibadat penganut budha.
Kata borobudur sendiri didasarkan bukti tertulis pertama yang ditulis oleh Sir Stamford Raffles, Gubernur Jendral Britania Raya di Jawa, yang memberi nama candi ini. Tidak ada bukti tertulis yang lebih tua, yang memberi nama borobudur pada candi ini. Satu-satunya dokumen tertua yang menunjukkan keberadaan candi ini adalah kitab Nagarakretagama, yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365. di kitab ini ditulis bahwa candi ini digunakan sebagai tempat meditasi penganut budha.
Candi ini selama berabad-abad tidak lagi didunakan. Kemudian karena letusan gunung berapi, sebagian besar bangunan candi borobudur tertutup tanah vulkanik. Selain itu, bangunan juga tertutup berbagai pepohonan dan semak belukar selama berabad-abad. Kemudian bangunan candi ini mulai terlupakan pada zaman islam masuk ke Indonesia sekitar abad ke-15.

Pada tahun 1814 saat Inggris menduduki Indonesia, Sir Thomas Stamford Raffles mendengar adanya penemuan benda purbakala berukuran raksasa di desa Bumisegoro daerah Magelang. Karena minatnya yang besar terhadap sejarah jawa, maka Raffles segera memerintahkan H.C. Cornelius, seorang insinyur Belanda, untuk menyelidiki lokasi penemuan yang saat itu berupa bukit yang dipenuhi semak belukar.
Cornelius di bantu oleh sekitar 200 pria menebang pepohonan dan menyingkirkan semak belukar yang menutupi bangunan raksasa tersebut. Karena mempertimbangkan bangunan bangunan yang sudah rapuh dan bisa runtuh, maka Cornelius melaporkan kepada Raffles penemuan tersebut termasuk beberapa gambar. Karena penemuan itu Raffles mendapat penghargaan sebagai orang yang memulai pemugaran candi borobudur dan mendapat perhatian dunia. Pada tahun 1835, seluruh area candi sudah berhasil di gali. Candi ini terus di pugar pada masa penjajahan Belanda.
Borobudur yang bertingkat sepuluh menggambarkan secara jelas filsafat mazhab Mahayana. Bagaikan sebuah kitab, borobudur menggambarkan 10 tingkatan bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai sebuah kesempurnaan menjadi budha. Bagian kaki borobudur melambangkan kakadhatu, yaitu dunia yang masih di kuasai oleh kam atau nafsu rendah. Bagian ini sebagian besar tertutup oleh tumpukkan batu yang di duga di buat untuk memperkuat konstruksi candi. Pada bagian yang tertutup struktur tambahan ini terdapat 120 panel ceritakammawibhangga. Sebagian kecil struktur tambahan itu disisihkan sehingga orang masih dapat melihat relief pada bagian ini.
Empat lantai dengan dinding berelief di atasnya oleh para ahli di namakan Rupadhatu. Lantainya berbentuk persegi. Rupadhatu adalah dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Tingkatan ini melambangkan alam antara yakni, anatara alam bawah dan alam atas. Pada bagian rupadhatu ini patung-patung budha terdapat pada ceruk-ceruk dinding di atas balustrade atau selasar.
Mulai lantai ke lima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Tingkatan ini dinamakan arupadhatu yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud. Denah lantai berbentuk lingkaran. Tingkatan ini melambangkan alam atas, dimana manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana.
Patung-patung budha ditempatkan di dalam stupa yang ditutup berlubang-lubang seperti dalam kurungan. Dari luar patung-patung ini masih tampak samara-samar. Tingkatan tertinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan tertinggi. Stupa digambarkan polos tanpa lubang-lubang. Di dalam stupa terbesar ini pernah ditemukan patung budha yang tidak sempurna atau disebut juga unfinished budha, yang disalah sangkakan sebagai patung adibudha, padahal melalui penelitian lebih lanjut tidak pernah ada patung pada stupa utama, patung yang tidak selesai itu merupakan kesalahan pemahatnya pada zaman dahulu. Menurut kepercayaannya, patung yang salah dalam proses pembuatannya memang tidak boleh dirusak. Penggalian arkeologi yang dilakukan di halaman candi ini menemukan banyak patung seperti ini.
Di masa lalu, beberapa patung budha bersama dengan 30 batu dengan relief, 2 patung singa, beberapa batu berbentuk kala, tangga dan gerbang dikirimkan kepada raja Thailand, Chulalongkorn yang mengunjungi Hindia Belanda (kini Indonesia) pada tahun 1896 sebagai hadiah dari pemerintah Hindia Belanda ketika itu.
Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain. Yang ada ialah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong dibatasi dinding mengelilingi candi, tingkat demi tingkat. Di lorong-lorong inilah umat budha diperkirakan melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi kearah kanan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur bertingkat-tingkat ini diduga merupakan perkembangan dari bentuk punden berundak, yang merupakan bentuk arsitektur asli dari masa prasejarah Indonesia. Struktur borobudur bila di lihat dari atas membentuk struktur mandala. Struktur borobudur tidak memakai semen sama sekali, melainkan system interlock yaitu seperti balok-balok lego yang bisa menempel tanpa lem.


Bagan Relief :


Tingkat Posisi/letak Cerita Relief Jumlah Pigura
Kaki Candi Asli Karmawibhangga 160 pigura
Tingkat I dinding a. Lalitawistara 120 pigura
b. Jataka/awadana 120 pigura
langkan a. Jataka/awadana 372 pigura
b. Jataka/awadana 128 pigura
Tingkat II dinding Gandawyuha 128 pigura
langkan Jataka/awadana 100 pigura
Tingkat III dinding Gandawyuha 88 pigura
Langkan Gandawyuha 88 pigura
Tingkat IV Dinding Gandawyuha 84 pigura
Langkan Gandawyuha 72 pigura
jumlah 1460 pigura

Secara runtutan maka cerita pada bermakna sebagai berikut :

KHARMAWIBHANGGA
Salah satu ukiran kharmawibhangga didinding candi borobudur (lantai 0 sudut tenggara.
Sesuai dengan makna simbolis pada kaki candi, relief yang menghiasi dinding batu yang terselubung tersebut menggambarkan hokum karma. Deretan relief tersebut bukan merupakan cerita seri (serial), tetapi pada setiap pigura menggambarkan satu cerita yang mempunyai korelasi sebab akibat. Relief tersebut tidak saja memberi gambaran terhadap perbuatan tercela manusia disertai dengan hukuman yang akan diperolehnya, tetapi juga perbuatan baik manusia dan pahala. Secara keseluruhan merupakan penggambaran kehidupan manusia dalam lingkaran lahir-hidup-mati (samsara) yang tidak pernah berakhir, dan oleh agama budha rantai tersebutlah yang akan diakhiri untuk menuju kesempurnaan.

LALITAWISTARA
Merupakan penggambaran riwayat sang budha dalam deretan relief-relief (tetapi bukan merupakan riwayat yang lengkap) yang dimulai dari turunnya sang budha dari sorga tusita, dan berakhir dengan wejangan pertama di Taman Rusa dekat kota Banaras. Relief ini berderet dari tangga pada sisi sebelah selatan, setelah melampaui deretan relief sebanyak 27 pigura yang dimulai dari tangga sisi timur. Ke-27 pigura tersebut menggambarkan kesibukkan, baik di sorga maupun di dunia, sebagai persiapan untuk menyambut hadirnya penjelmaan terakhir sang Bodhisattwa selaku calon budha. Relief tersebut menggambarkan lahirnya sang budha di arcapada ini sebagai pangeran Siddartha, putra raja Suddodana dan permaisuri maya dari negeri kapilawastu. Relief tersebut berjumlah 120 pigura, yang berakhir dengan wejangan peertama, yang secara simbolis dinyatakan sebagai pemutaran roda Dharma, ajaran sang budha disebut dharma yang juga berarti “hokum”, sedangkan dharma dilambangkan sebagai roda.

JATAKA dan AWADANA
Jataka adalah cerita tentang sang budha sebelum dilahirkan sebagai pangeran Siddharta. Isinya merupakan pokok penonjolan perbuatan baik, yang membedakan sang Bohisattwa dari makhluk lain manapun juga. Sesungguhnya, pengumpulan jasa/perbuatan baik merupakan tahapan persiapan dalam usaha menuju ketingkat ke budha-an.
Sedangkan awadana, pada dasarnya hamper sama dengan jataka akan tetapi pelakunya bukan sang bodhisattwa, melainkan orang lain dan ceritanya dihimpun dalam kitab Dwyawadana yang berarti perbuatan mulia kedewaan, dan kitab awadanasataka atau seratus cerita awadana. Pada relief candi borobudur jataka dan awadana, diperlakukan sama, artinya keduanya terdapat dalam deretan yang sama tanpa dibedakan. Himpunan yang paling terkenal dari kehidupan sang bodhisattwa adalah jatakamala atau untaian cerita jataka, karya penyair aryasura yang hidup dalam abad ke-4 masehi.

GANDAWYUHA
Merupakan deretan relief menghiasi dinding lorong ke-2, adalah cerita sudhana yang berkelana tanpa mengenal lebih dalam usahanya mencari pengetahuan tertinggi tentang kebenaran sejati oleh sudhana. Penggambarannya dalam 460 pigura didasarkan pada kitab suci budha Mahayana yang berjudul gandawyuha, dan untuk bagian penutupnya berdasarkan cerita kitab lainnya yaitu Bhadracari.

Tahapan pembangunan candi borobudur :
1. Tahapan pertama masa pembangunan borobudur tidak diketahuai pasti (diperkirakan antara 750 dan 850 M). Pada awalnya dibangun tata susun bertingkat. Sepertinga dirancang sebagai piramida berundak. Tetapi kemudian diubah. Sebagai bukti ada tata susun yang dibongkar.
2. Tahapan kedua pondasi borobudur diperlebar, ditambah dengan dua undak persegi dan satu undak lingkaran yang langsung diberikan stupa induk besar.
3. Tahapan ketiga undak atas lingkaran dengan stupa induk besar dibongkar, dihilangkan dan diganti tiga undak lingkaran. Stupa-stupa dibangun pada puncak undak-undak ini dengan satu stupa besar di tengahnya.
4. Tahapan keempat ada perubahan kecil seperti pembuatan relief, perubahan tangga dan lengkung atas pintu.

You Might Also Like

1 komentar

Subscribe