Cerpen

Desember 02, 2010

KADO UNTUK MAK
Oleh: Vempi Satriya adi Hendrawan


Namaku Didin,  anak umur 10 tahun.  Aku hidup di keluarga yang tak utuh lagi. Bapak sudah meninggal 1,5 tahun lalu, kakak pergi dari rumah, mboh saiki neng ndi , dan aku disini hidup bersama mak, harapanku satu-satunya.
Semenjak sepeninggalan Bapak, keadaan Mak dari hari ke hari semakin memburuk. Sampai akhirnya kini Mak sakit stroke. Sehingga kini hanyalah aku seorang tumpuan hidup Mak. Tapi tak apalah, walau aku sudah tak bisa sekolah lagi, yang penting aku bisa ngopeni  Mak.
Hari ini adalah hari yang spesial buat Mak, 13 April. Ini hari Ulang tahun pernikahannya Mak sama Bapak. Aku ingat ketika dulu, waktu Bapak masih ada, Bapak ngasih kado buat Mak, sebuah kalung murahan. Walau bukan emas, namun itu bukti  tulus cintanya  Bapak kepada Mak. Saat itu keluarga kami masih utuh dan harmonis. Aku sangat rindu saat-saat itu.

“Aku ngasih kado apa ya...???” Lipstik....Aduh, Mak gak butuh barang kayak gituan, secara Mak sakit kayak gitu. goblok...goblok...goblok...Didin goblok. Ah...daripada aku duduk terus-terusan di kamar, mendingan ku samperin mak dulu. Untuk kadonya Mak, kupikirin nanti kan bisa.
“Maaak...!!!”ku panggil Mak. Mak terbaring di amben ruang tamu. Mak memang menghabiskan hari-harinya di amben warna merah kembangan itu. Kulihat Mak terbaring mlumah memakai daster coklat bermotif batik yang lungset. Kulit halusnya dulu, kini berubah kusut. Aku ingat ketika Mak mengelus rambutku dulu, membelai dengan tangan halusnya. Mak itu tipe orang yang perhatiaaan banget. Ahhh...Tapi kini itu semua tinggal kenangan.
Muka Mak tampak pucat. Kedua kakinya yang lumpuh, membuat mak tak bisa beranjak dari tempat tidurnya.
Tangannya Mak juga gak berfungsi sempurna. Hanya bisa bergerak ringan, kalau dibuat pegang sesuatu pasti tangan Mak gak kuat.
“Maaak...Maaak...”. Dia belum merespon,  baru setelah kudekati, Mak baru merespon dengan membuka mata yang sudah bewarna abu-abu. Aku mengucir rambut berombaknya Mak. Kududukkan Mak, bersandar ditembok samping amben. Mak tak bisa bicara, mulutnya kini  tak cukup kuat untuk berbicara, yang ada hanyalah rintih dan anggukan isyarat Mak.
 Kadang aku berpikir, apakah Mak akan terus-terusan kayak gini, ya Allah...Jika Engkau ingin mencabut nyawanya, silahkan asal itu adalah jalan yang terbaik untuk Makku. Tapi, aku masih sangat sayang sama Mak, hanya Maklah satu-satunya yang ada di sampingku, kalau Kau mencabut nyawanya, lantas aku dengan siapa???, apakah aku harus hidup sebatang kara, aku hanyalah bocah umur 10 tahun yang tak tahu apa-apa. “Huh...” tapi sudahlah, yang penting sekarang aku harus menjaga Mak, satu-satunya orang yang sangat kusayangi.
“Mak, Didin ke pawon dulu ya, nyiapin sarapanya Mak.” Mak menganggukkan kepalanya.
*             *          *
Jarak antara dapur dengan runang tamu hanya sekitar 5 meteran. Memang rumah peninggalan Bapak satu-satunya ini tidak terlalu luas, hanya  4m ×8m, dan berlantaikan tanah. Hanya ada 3 ruang di rumah ini. Ruang tamu yang sekarang jadi tempat tidur Mak, kamar, sama dapur dengan sekat tembok yang mulai retak dan kotor.
Aku berjalan menuju dapur dan segera mengambil mie instan dalam kerdus. Mie Instan dan beras disini semuanya pemberian Pak RT. Sekarang masih 1 kardus untuk persediaan sekitar 2-3 minggu kedepan. Nanti kalau persediaan ini habis, Aku dan Mak makan apa...??? Aku tak ingin berharap belas kasihan orang lain, toh mereka juga hidup dalam keegoisan. Seperti orang-orang kota lainya.
Kuputar tombol kompor gas elpiji. Elpiji inipun juga bantuan dari pemerintah.  “cetek..”. Kutaruh panci diatas kompor dan kutuangkan air ke dalam panci. Sambil menunggu airnya mendidih, kupikir-pikir lagi, “kado apa ya yang tepat buat mak...???”
Airpun mendidih dan kutuangkan mie instan kedalam air yang mendidih itu. “Mmm..., apa ya???, mmmmmm.....................”.
“Oh ya...aku punya ide. Gimana kalau kado buat Mak itu sesuatu atau barang yang amat spesial di kehidupan Mak sebelum sakit... pokoknya barang yang amat berkesanlah bagi Mak.”.
“Dengan mengingat indahnya masa lalu bersama keluarga, aku harap Mak tambah semangat dalam menjalani hari-harinya seperti ini. Aku harus temukan itu.”. “Tapi apa yaaa...???”.
“Mmmmm...???”
” MasyaAllah kemedoken...!!!”  teriakku setelah sadar bahwa mie yang kumasak tadi kematangan sampai melunak. Langsung kusuntek mie tadi kedalam piring seng yang telah kusiapkan.
“Maaak..., ini sarapanya sudah siap.” Kutaruh sepiring mie dan segelas air putih diatas loyang. Aku berjalan ke ruang tamu dan menaruh loyang disamping Mak. Kududuk disamping Mak, dan aku mulai menyaupkan mie kepada Mak.
“Buka mulut Mak...a...a...aem...”
Aku dan Mak hanya berjarak sekitar 30 centimeteran. Ku lihat wajah Mak. Mak terlihat bahagia, seperti seolah ingin memelukku, “mungkin...”
“Mak, aku sayang Mak”
Setelah 10-12 suapan, mie itu habis tak tersisa. “Wah, alhamdulillah...Mak hebat!!!”Kataku.
“Kalau begini terus, Mak pasti akan tambah sehat.”
Aku tak tahu apa yang ada di benak Mak, tapi yang pasti, Mak tampak sangat senang. Itu bisa terlihat dari raut wajah sayu Mak.
“Mak aku pengen kayak dulu...” Aku rindu nasehat Mak, wejangan-wejang luhurnya Mak. Balas budiku ini  jelas belum cukup, dibanding jasa-jasamu yang amat besar. Kasing sayangmu tak terhingga.
“Oh...Mak....”
“Mak, Mak istirahat aja, Didin mau narik dulu ya...Kayaknya jam 11an Didin udah pulang kok. “
Aku mengembalikan loyang, piring dan gelas tadi ke dapur. Lalu kembali ke ruang tamu lagi. Kuambil kentrung kesayanganku di dalam kamar dan bersiap untuk menjalani rutinitasku sehari-hari, mengamen dijalan Kota Semarang. Untung aku punya ini, kentrung peninggalan kakakku. Aku belajar ini sendiri lho. Hanya ini yang bisa kulakukan untuk menghidupi diriku sendiri dan Mak. Hanya ini yang kubisa, yang penting Halal.
“Mak Didin berangkat dulu yah...!!!” kataku sambil mendekati Mak. Seperti biasa, kucium tangan Mak. Bau khas Mak tak lekang oleh waktu, tetep kayak dulu.
 “Do’akan Didin dapet uang banyak ya Mak, Assalamualaikum...!!!” akupun keluar rumah dan mendekati pintu.  Aku keluar rumah, dan kututup kembali pintu rumah, tanpa menguncinya. Karena sudah biasa rumah kubiarkan dalam keadaan tak terkunci. Lagian gemboknya juga sudah rusak. Yang penting berdo’a aja, semoga tak terjadi apa-apa sama Mak, amien.
*             *          *
 Kulangkahkan kaki, langkah demi langkah, sambil  mengharap dapet uang banyak hari ini. Di perjalanan ku teringat.”Oh ya...Meh ae lali..., apa ya kado yang tepat buat Mak???”
“Sesuatu yang berkesan buat Mak, apa yaaa...?”
Aku berpikir sepanjang perjalananku menuju Semarang kota. Sekitar kurang lebih 2 kilometeran lah, jarak Rejosari tempat tinggalku menuju Simpang lima Semarang.  Sampai akhirnya...
”Ooh ya..., ketemu...Horrreee...!!!” teriakku girang.
Akhirnya kutemukan kado yang tepat untuk Mak.Kayaknya Mak bakalan seneng banget dapet kado ini dariku, siep!!!.  Aku harus dapet uang banyak nieh, biar bisa beli itu. “Semangat!!!...” Semangatku tambah melonjak ketika aku ingat Mak di rumah.
“Mak, tunggu aku!!!...” 
“Aku harus bisa!!!...” teriakku dengan penuh semangat.
Setelah kurang lebih tiga perempat jam-an. Akhirnya aku sampai di Semarang kota,langsung aku bergegas menuju perliman.
“Go...go...go...!!!” rasa lelahpun lenyap karena semangat membaraku.
Biasanya disimpang lima ini aku dapat lumayan. Di sini juga jarang ada preman berkeliaran. Gak kayak di tempat lain. Sakambrek.
Preman kok wanine karo cah cilik, huh opo wie kacangan...” gumamku, karena kesal dengan preman jalanan yang suka malakin bocah-bocah pengamen sepertiku.
“Wah...lampu udah merah tuh. Kesana ah...” akupun berlari menuju mobil carry merah yang menurut feelingku orangnya dermawan, hehe...
 “Pak, Assalamualaikum” sapaku kepada bapak yang nyetir. Kuberdiri didepan jendela depan mobil carry, tepat disamping bapak yang nyetir. Aku gak lihat wajah Bapak, karena tinggiku gak sampek jendela. Yang kelihatan hanya sebagian atas kepalanya. “Waalaikumsalam” jawab bapak. Kuambil pick di dalam sakuku. Dan kuposisikan tangan kiriku di kunci C. Kutes genjrengan kentrungku “jreng...genjreng...genjreng”. Dan kumulai menyanyi lagu andalanku yang mengingangatkanku akan Mak. Emang gak hafal sich, aku Cuma hafal sebagian doank. He...he...maklum gak punya Tipi .
“Bunda”. Mulai...
“Jreng...jreng...jreng..jreng”.
“Pikirkupun melayaaang...”
“ Dahulu penuh kasih...”
“Teringat seeemua cerita oraaang”
“Tentang riwayatkuuu...”

”Kaaata mereka dirikuuu slalu dimanja... “
“Kaaata mereka dirikuuu slalu ditimang....”

“Oooh bundaaa ada dan tiada dirimu kan slaluuu...ada diii dalam hatiku...”

“ Kaaata mereka diriku slalu dimanja... “
“Kaaata mereka diriku slalu ditimang....
”Oooh bundaaa ada dan tiada dirimu kan slaluuu... ada diii dalam hatikuuuuuuuuuuuuuu......”
Kuakhiri lagu andalanku. Aku memang suka banget lagu itu. Lagu yang isinya tentang kasih sayang seorang anak kepada ibunya. Dan aku terharu banget nyanyiin lagu “Bunda”, makanya aku nyanyiin dengan penuh perasaan. Bunda, ibu, Mak, aku sayang kepada mu...
“Ini dek, mungkin tak seberapa” kata Bapak sambil mengulurkan selembar uang kertas. “Wah Pak, salah ambil uang kali. Ini kan dua puluh ribu.” sahutku. “Gak dek, ya hanya itu yang bisa saya bagi untuk adek.”.”Tapi Pak!!!”.”Halah gak usah sungkan,... oh ya...... jaga ibumu baik-baiki ya, kayaknya nyanyi lagu tadi ndalemin banget... Ingat kata Bapak ini!.”kata Bapak tergesa-gesa menjalankan mobilnya. Kini lampu telah hijau, dan mobil carry punya Bapak dermawan tadipun udah jalan lumayan jauh .
 “Terima kasih ya pak...!!!!!”Teriakku sambil melambaikan tangan dengan membawa uang dua puluh ribuan tadi.
“Alhamdulillah ya Allah..... Semoga amal Bapak tadi mendapat imbalan yang lebih dari Allah. Aku yakin atas dasar niat baik untuk Mak, engkau lebarkan jalan RezikiMu hari ini.” kumasukkan uang dua puluh ribuan tadi kedalam umplung.
Kumerapat ke trotoar jalan. Kuingat-ingat lagi perkataan Bapak tadi. ”Jaga ibumu baik-baik ya...”. Hmmm...Mak  udah bangun apa belum ya???. Tunggu aku Mak, aku akan pulang dengan bawa kado spesial untukmu. Walau harganya gak selangit, namun itu mewakili rasa sayangku ke Mak.
Hmmm, baru sebentar udah dapet dua puluh ribu, harga kadonya berapa ya. Mesti lebih dari empat puluh ribu. Aku harus dapet uang sekitar dua puluh ribuan neh biar bisa nggenepin sisanya. “Semangat...!!!”
Aku menanti tiap lampu berubah merah, dari simpang satu ke simpang lain. Simpang satu hijau, ku berlari kesimpang lainya dan begitu seterusnya. Sampai akhirnya  uang yang kudapet udah lumayan banyak .
“Huh, capek.” sambatku kecapekan.
 “Capek-capek tapi tetep semangat...!!!”
Aku menuju ke emperan toko tutup di samping jalan. Aku duduk di situ dan kuhitung hasil yang kudapet hari itu.
Kukeluarkan satu demi satu.“Dua satu ribu, dua dua ribu, dua empat seratus, dua empat lima ratus, dua lima ribu, dua lima lima ratus........................ ”. Sampai akhirnya kuhitung uang terakhirku yang ada di umplung.
“He...he...berapa yaaaa yang terakhir ini...???” kataku penasaraan. “Ini udah ada tiga puluh delapan ribu, kurang dua ribuuuuuu aja genep empat puluh ribu .”.”Hah...bismillah aja...”.
Aku sengaja tidak melihat uang terakhir yang ada di umplung.
“Bismillahirrohmanirrahim...” sambil kurogohkan tanganku ke dalam umplung. Kuambil uang itu. Kupegang dan kujereng tepat di depan mataku yang sengaja kututup.
“Dua ribu lebih... Dua ribu lebih,,, Dua ribu lebih...”. harapku dalam hati.
Tarrrrrrattt....Kubuka mata.
............
“Yyyaaah...seribuuuu tok...”. teriakku kecewa.
“Wah..wah takkironi dua ribu rupiah atau lebih.”.”Hah... gak apalah, toh harga kadonya Mak juga belum tentu empat puluh ribu. Masak itu sampek empat puluh ribu lebih, kayaknya gak deh insya Allah.”
“Hah...Alhamdulillah.”. Hari ini kayaknya ndengaren banget yaaa. Masak baru ngamen sebentar, udah dapet uang segini. Terima kasih ya Allah engkau telah mengabulkan do’aku.
Ben, engko nek sampek uange kurang, tak taware sampek kenak. Itu tekatku...!!!”
Aku beranjak dari tempat dudukku diemperan toko tadi.
“Toko yang jual itu, dimana yah???”.“Gimana kalau aku tanya Bapak itu”. Kuberlari mengampiri salah seorang Bapak yang sesedang berdiri di trotoar jalan.
“Bapak kulo nuwun...”
“Ya, ada apa?”
“Saya mau tanya pak, toko yang jual...dimana ya pak dekat-dekat sini???”
“Owh..., kalau gak salah...dipojok perliman itu lho dek.” sambil menunjuk ke arah yang yang dimaksudkan.
“Trima kasih bapak...”
“Sama-sama dek.”
Kulangsung bergegas menuju toko dan sesampainya...
*             *            *
“Mbak ada.    .    .” tanyaku kepada mbaknya penjaga toko.
“Waduh dek.” jawab mbak sambil mencarinya di etalase.
Sontak hatiku “deg...”.
 “Mbak sampeyan cari dulu aja, mbok menowo masih satu.”
 “Owh masih kok dek, pas tinggal satu tok.” mbake bangkit dari pencarianya, sambil membawa barang yang kucari. “Wah bejone sampeyan dek...”
“Alhamdulillah...”.”Gak bisa milih donk mbak?, tapi tak apalah yang penting barangnya ada”.
”Berapa mbak???” tanyaku sambil merogoh uang yang ada di sak belakangku.
“Mmm...” sambil memutar-mutar barang, mbak mencari label harga. “Mmmm........empat puluh ribu dek, ini udah termasuk diskon.”
“Aduh...” kataku dalam hati. “Gak boleh kurang o mbak...”.”Ini aku cuma punya uang tiga puluh sembilan ribu, kurang seribuuuuuu...aja.” sambil kukeluarkan uang yang ada dalam sakku tadi.
“Aduh dek, gak bisa...ini harga pas e...”
“Ayolah mbak, ini buat kado untuk Makku dirumah lho mbak...punyaku cuma tiga lapan ribu tok.” rayuku dengan melas. Tak apalah melas- melas yang penting aku bisa bawa pulang kado untuk Mak.
“Mmmm....” sejenak mbake terlihat pikir-pikir.
Yo wes lah...Eits... tapi ini bener-bener buat makke adek lho yaaa!”
“Yesss...” teriakku gembira. “OK mbak...”. ku berikan uang tiga puluh delapan ribu tadi ke Mbaknya. “Ini mbak uangnya.”
“Oh ya...” jawab mbak sambil menerima uangku. “Terima kasih ya..., ini.” menyerahkan barang yang sudah terbungkus tas kresek.
“Waduh mbak...yang seharusnya terima kasih itu saya. Terima kasih ya mbak, pasti Makku seneng dapet ini.”  
“Amien...Jaga Makmu ya dek...”
“Siapppp mbak...!!!” ku segera keluar dari toko sambil membawa bungkusan kresek kadonya Mak. “Alhamdulillah ya Allah, lagi-lagi Engkau memberi jalan kemudahan bagiku, ketemu orang-orang yang dermawan. Semoga mereka mendapat imbalan yang lebih besar dariMu, karena aku hanya bisa mengucapkan terima kasih kepada mereka.”
“Hah...kado udah dapet, tinggal pulang dan ngasihin ini ke Mak.”
“Oh yaaa...”teriakku teringat sesuatu. “Ini jam berapa???” kubingung mencari jam. “Aku khan udah janji ke Mak kalau aku akan kembali jam 11.”. Ku berbalik arah dan menaruh pandanganku ketoko tadi. Dari kejauhan kulihat jam yang ada ditembok toko.
“Astaghfirullah, jam setengah dua belas...!!!.”. “Gimana ini...perjalanan sini rumah sekitar tiga perempat jam, jadi aku baru datang dirumah jam dua belas seperempat...Aku harus cepet-cepet nih.”. kupercepat langkahku. “Aduh Mak maafkan aku, aku tak bisa menepati janji. Tapi ini aku udah dapet kadonya Mak.”
“Mak aku datang...!!!.”
Kuberjalan agak cepat dengan sisa-sisa tenagaku. Bagaimana tidak, aku tadi pagi belum sarapan, keburu-buru berangkat ngamen. Jadinya lupa dech...
”Oh ya...responya Mak ngko piye ya???...”.”Apa tiba-tiba Mak nanti bisa bicara. Terus ngucapin, makasih ya nak ke aku.”.”hahaha...gak mungkin... Eh tapi mungkin aja kalau Allah mengijinkan, apa sich didunia ini yang tidak mungkin. Mak yang sakit stroke kayak gitu, bisa aja sembuh tiba-tiba atas seizin Allah. Amien...”
Semoga Mak seneng dapet kado dariku. Walau mungkin Mak gak bisa ngungkapin kebahagiaannya lewat kata-kata, tapi dalam hati semoga Mak bahagia. Aku pengen nyenengne Mak.
Akun berjalan terus tanpa lelah, sambil membawa kentrung dan kadonya Mak ditangan kanan. Disepanjang perjalanan pulang, aku terus membayangkan responya Mak ketika dapet kado dariku. Ku tak sabar menanti saat-saat aku tiba dan ngasih kado ini ke Mak. Kupercepat langkahku.  
*             *            *
Semakin cepat, semakin cepat. Saking semangatnya, aku sampai sampai setengah berlari menuju rumah. Semakin dekat semakin semangat, semakin semangat semakin cepat ku berjalan.
“Wah itu rumah udah kelihatan...”.”Mak aku udah datang...!!!” teriakku sekeras mungkin, biarin didengerin tetangga yang penting aku harus bertemu Mak. Mak udah bangun apa belum ya??? Kugenggem erat-erat kadonya Mak ditangan kananku. Kuberlari sekencang mungkin.
“Mak...!!!, maaf aku telat...!!!!, ini aku bawa sesuatu buat Mak...!!!”
Kuberlari kencang. “Ayo semangat...!!! Udah dekat udah dekat udah dekat!.” Berusaha kumunculkan semangat dengan sisa-sisa tenagaku.
“Hah...hah...hah...akhirnya ....”. Ku sampai diteras rumah.
“Maaak...!!!, Didin pulang bawa sesuatu buat Mak nieh...”
“Assalamualaikum Mak...”
Akhirnya penantianku tiba juga. Kini Mak udah amat dekat. Selangkah lagi kulihat wajah Mak... Terima kasih ya Allah...
Ku berjalan mendekati pintu. Dengan penuh asa kubuka pintu yang tak terkunci tadi. “Ceklek...”
Kudorong pintu kedepan. “Maaak...Didin pulang bawa sesuatu nih...”.”Mak udah bangun apa belum???”
Kulangkahkan kakiku dan kutengok Mak diamben sebelah kanan.
......
“MAAAAAAAAAK......!!!!!!”
*             *            *

You Might Also Like

8 komentar

  1. YA ALLAH,,,, terimakasih.... engkau telah hadirkan seorang kakak yang begitu berarti....
    terimakasih juga bwt kak vempi yang sudah ngasih info dan mengingatkan aku tentang hal yang sangat-sangat berharga ini.... "BUNDA" aku sangat menyayangi 'bunda" ku.... sekali lagi terimakasih kak...
    SEMANGAT 55 !!!

    BalasHapus
  2. OK, like it!!!
    Bunda adalah mutiara kehidupan, tapi justru terkadang kita lalai akan itu.
    Semoga sj kita tdk trgolong org2 yang merugi apalagi dg org tua, amien...

    BalasHapus
  3. Ammiiieeennn....
    kak q punya sdkit syair lagu untuk bunda...
    "bunda q tercinta..mnusuk pnuh sukma.. senyum bahagia.. q temukan surga.."
    mksud dri syair itu.. senyum seorang ibu adalah ridlo ALLAH yang akan menuntun kita ke surga kelak kak...
    (betul tidak..??) ^_^

    BalasHapus
  4. Kak... jangan lupa postkan terus motivasimu...
    INSYAALLAH akan memberi yang terbaik untuk semua umat...
    (talent yang luar biasa) ^_^
    i like...

    BalasHapus
  5. huft... gugh da koment baruuuu
    msak yg koment cuma q ma kak vempi sendiri siihhh..... >_<

    BalasHapus
  6. vempi.... buat aku nangiiis :')

    BalasHapus

Subscribe