Menangkap Senyuman dari Sang Ibu Pertiwi

Maret 24, 2014

Melihat realita di pedesaan yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan, membuat nurani ini merenungi kehidupan selama ini. Bagaimana kita merasakan kehidupan di perkotaan yang serba tercukupi. Kita tidak sadar ada jutaan saudara-saudara kita yang masih tertatih-tatih dalam menjalani kehidupan. Bahkan pendapatan perhari pun tidak bisa mencukupi kebutuhan makan sehari-hari. Bahkan hal itu juga kita alami ketika pulang kampung di desa.
Sumber: flickr.com

Indonesia memang mempunyai wilayah yang sangat luas, begitupun dengan penduduknya yang kini telah mencapai angka sekitar 240 juta jiwa. Dengan wilayah yang terbentang dari sabang sampai merauke akan sangat mungkin jika tersedia beragam budaya dan kearifan lokal di masing-masing daerah. Walaupun dalam keadaan susah dalam hal ekonomi, namun saya melihat Indonesia mempunyai "sesuatu" yang membuat hati ini tersenyum bangga dan bahagia bisa dilahirkan di negeri yang penuh "Cinta" ini. Negeri yang bijaksana dan sabar dalam menghadapi seluruh kenyataan yang ada.

Kesenjangan sosial antara yang kaya dan yang miskin juga menjadi masalah yang serius di bangsa ini. Yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin. Itu sudah menjadi hal yang setiap hari kita temui dan sadari dalam kehidupan masyarakat. Kasus-kasus yang ngetren di negeri ini, seperti korupsi dan kesuksesan para segelintir pengusaha seperti menjadi cambukan yang keras bagi penegakan keadilan dan pemenuhan kesejahteraan untuk semua Penduduk negeri ini.Apakah keadaan ini sudah menjadi budaya yang mengakar dan susah untuk dirubah? lantas sampai mau kapan kita seperti ini?

Bermain bersama anak-anak SD Kaligatuk
Mungkin masyarakat pada umumnya, tidak mau berpikir ribet dan tidak mau dipusingkan oleh tindakan para elit politik bahkan pemerintah. Menikmati hidup tenang bertetangga lebih menyenangkan daripada harus memikirkan itu semua. Sikap nerimo merupakan wujud respon masyarakat terhadap ulah para petinggi negeri, bukan karena tidak peduli,  mungkin mereka sudah capek dan tak habis pikir mengapa kerakusan dari elit politik bisa dilakukan oleh pajabat yang bermartabat dan berpendidikan. Sudahlah... Yang penting guyub rukun bareng tetangga dan senantiasa gotong royong serta menyelesaikan seluruh urusan masyarakat melalui musyawarah mufakat, mungkin itulah yang dipikirkan oleh mereka. Itu adalah "sesuatu" yang saya maksud didepan tadi. Saya kagum dengan kearifan lokal masyarakat pedesaan. Yang bisa lebih bijak dalam bertindak, walaupun tingkat pendidikan tidak seberapa, bahkan hanya lulus SD.

Kadang saya berpikir, kapan Indonesia bisa berkembang jika seluruh tatanan masyarakat yang ada sekarang ini tetap seperti ini. Masalah dari tingkat elit pemerintahan sampai masyarakat di tingkatan bawah sudah sangat kompleks dan rumit. Namun, disisi lain saya menemukan kebahagian ditengah-tengah tawa dan kehangatan jika berada di masyarakat tingkat bawah. Apakah ini zona nyaman kita? Apakah memang ini adalah karakter kita, yang harus tetap dijalankan apa adanya, mengalir bagaikan air? Kadang kata "Ya sudahlah..." selalu muncul di benak saya. Hanya bisa tersenyum dengan realita yang ada. Tak bisa berontak dan menembus batas dengan melawan arus yang ada. Ini adalah kehidupan sosial yang telah terbentuk melalui proses yang amat panjang. "Kamu tidak bisa melawan ini!"

Namun, kita Bangsa Indonesia sebenarnya mempunyai sejuta potensi yang bisa diolah dan dimanfaatkan secara maksimal. Baik itu potensi Sumber Daya Alam maupun Sumber Daya Manusia. Hanyalah momentum yang harusnya kita jemput untuk budaya hidup yang lebih baik. Peran pemuda amat besar, Bahkan Ir. Soekarno tidak sedikitpun meragukan kekuatan Mahasiswa sebagai komponen penting dalam proses perubahan besar-besaran di negeri ini. Tak hanya cukup dengan apa yang ada sekarang, kita harus mampu memaksaan momentum perubahan ini. Tak sekedar duduk menikmati secangkir kopi sambil baca koran di zona nyaman kita, namun Lakukan perubahan dengan segera berdiri dan beranjak dari "ke-tidak-produktif-an" pola sehari-hari. Bergerak berlari, menembus batas, dan menggapai impian setinggi langit, dengan orientasi luas dan luhur untuk kemajuan Bangsa dan Negara Indonesia. Apapun potensi dan bakat kita, Maksimalkan! Jangan dikira kita yang "kecil" ini tidak bisa berbuat apa-apa untuk Indonesia. Kalian harus sadar bahwa setetes air yang turun bahkan bisa melubangi batu sekeras apapun.

Kawanku,  mari kita bawa negeri ini maju melalui tangan kita. Bawa misi untuk mewujudkan tujuan Bangsa ini disetiap langkah kita. Karena itu adalah niatan yang istimewa untuk menegakkan keadilan di bumi pertiwi ini. Keadilan akan mewujudkan ketenteraman masyarakat luas dan akan ada banyak hati yang tersenyum. Membawa kebahagiaan dan membiarkan senyuman masyarakat yang hangat sekaligus menyejukkan hati, dengan kearifan lokal yang tidak boleh sirna karena peradaban barat.

Maju terus Pemuda!
Karena Pemuda merupakan agent of change!
Maju dan bergeraklah!


-Sebuah catatan kecil setelah merasakan kehidupan singkat selama 3 hari di desa Srimulyo dusun Kaligatuk Yogyakarta-

Bakti Desa membangun MCK di Mushola Desa



You Might Also Like

0 komentar

Subscribe