Kekecewaan sebagai cambuk Semangat

Mei 22, 2015

Saya merinding dan serasa bergetar ketika memasuki ruangan ini. Ya, memang dekorasi di ruangan ini cukup cantik untuk menyambut para kontestan lomba Karya Tulis Ilimiah. Namun bukan itu yang membuat saya terasa deg-degan ketika memasuki ruangan ini.

Seketika saya teringat dengan mimpi-mimpi yang pernah saya bayangkan ditahun ini. Bagaimana saya sangat optimis dengan keberhasilan kami di ajang-ajang lomba tahun ini. salah satunya adalah 4th Civil In Action. Namun saat ini kami harus menerima kenyataan yang sebenarnya.

Di Lomba karya Tulis ilmiah ini, praktis dari UGM tidak mengirim perwakilan sama sekali dari 12 tim yang mengirimkan karya. Tentunya ini adalah kesalahan besar bagi kami. Bagaimana bisa tidak ada satupun dari UGM yang mengirimkan karyanya. Apakah tidak bisa diusahakan lebih? Sesulit apa mendorong teman-teman untuk mengikuti lomba yang sebenarnya cukup sederhana ini, Ya, sekali lagi ini adalah kebodoha kami, khususnya saya.

Belum selesai merenungkan hal itu, saya mencoba menikmati euforia di ruangan ini. Dibuka dengan presentasi dari Universitas Indonesia, saya cukup terkagum dengan presentator si jaket kuning. Mengapa? karena ternyata mereka adalah mahasiswa angkatan 2014. Wow, keren! Ini semakin menampar keras muka saya.

Setelah beberapa menit presentasi, saya cukup tertarik dengan cara presentasi mereka. Ya, walaupun mereka adalah mahasiswa 2015  ternyata kecakaan mereka dalam mempresentasikan bahan cukup baik. Berbicara dengan cukup lancar, sedikit terbata-bata dan dapat menyampaikan argumentasi/pemikiran dengan sangat baik. Yeah, anak Universitas Indonesia, salut! Seharusnya kita banyak belajar dari kawan-kawan kita diluar sana. Sudah cukup kita terkungkung dengan pembatas-pembatas yang justru kita ciptakan sendiri, tembus batas dan keluarlah dari zona nyaman. Sekali lagi saya merasa iri dengan mereka yang berhasil menciptakan zona prestasi mereka sendiri. Selamat kepada mereka!

Ini menjadi evaluasi bagi kita bersama, kawan. Bagaimana kita harus berjuang lebih keras lagi untuk mencapai tujuan-tujuan yang sebelumnya telah kita tentukan. Fokus, fokus dan fokus! Bersama kawan-kawan di CSC dan ditambah dengan dukungan seluruh keluarga besar KMTS, kita harus ciptakan budaya berprestasi di lingkungan JTSL FT UGM secepatnya, secepatnya dan secepatnya. Jangan biarkan adik-adik kita merasakan kekecewaan yang sama. Jangan biarkan Mahasiswa Sipil UGM hanya dapat membanggakan dirinya dengan modal almamater dan keberhasilan yang dicapai oleh para dosennya. Atau nama besar para pendahulunya. Busungkan dada karena kemampuan sendiri. Jangan sampai Almamater UGM atau Teknik Sipil dan Lingkungan UGM yang membesarkan nama kita, mahasiswa. Namun bagaimana nama UGM dan Sipil UGM besar karena prestasi kita!

Semoga ini dapat menjadi sebuah renungan yang dapat melecut semangat kita para penerus perjuangan engineer muda  Sipil UGM Indonesia.

Untuk kawan-kawan yang luar biasa!

Ruang Sidang Biru, JTSL FT UGM
Di kursi paling belakang,
10:00 WIB


You Might Also Like

0 komentar

Subscribe