Menata Kembali Puing yang Terserak

Januari 14, 2016

Kini perjalanmu telah cukup jauh untuk ukuran sebuah perjalanan dunia. Semakin jauh menjauhi masa kanak-kanak yang kamu bisa bebas bermain kesana kemari bersama kawan-kawanmu. Masa yang pasti akan sangat kamu rindukan kelak. Dan kamu hanya bisa tersenyum tipis ketika kamu mengingat masa-masa bahagiamu dimasa kecil. Kini semuanya terasa amat dekat dan nyata. Akan sebuah kenyataan dimana kita menjadi seorang yang dewasa. Masa yang setiap dari kita akan berhadapan dengan persaingan ketat mencari makan dan penghidupan. Menjadi yang terbaik dari yang terbaik. Bahkan kondisi yang menuntut manusia untuk melakukan hal apapun untuk mencapai sebuah pencapaian. Ya, kamu akan menjadi seorang profesional yang harus bersaing dengan banyak lulusan-lulusan terbaik se Indonesia bahkan seluruh dunia. Kini itu semua terasa nyata dan mau tidak mau harus kita hadapi. Itu jika kamu mengikuti sebuah kelaziman dalam suatu alur kesuksesan duniawi.

Sebagai mahasiswa kita dibentuk menjadi seorang yang terpelajar. Setiap orang punya proses masing-masing dalam belajar. Banyak jalan yang ditempuh masing-masing orang. Untuk mencapai mimpimu kamu punya jutaan bahkan miliaran cara yang dapat kamu pilih. Namun tentunya semua pilihan tersebut mempunyai konsekuensi dan efektifitas yang berbeda-beda, sesuai dengan pelakunya. Saya meyakini  bahwa semua jalan tersebut adalah suatu bentuk pembelajaran dari seseorang dengan latar belakang dan gaya masing-masing. Sangat banyak jalan seorang mahasiswa dalam menempuh mimpi dan tujuan mereka.

Sudah sejak awal sudah saya tentukan jalan hidup saya di bangku kuliah, di kota istimewa Yogyakarta. Dengan segala kearifan lokal dan budaya yang sangat melekat. Yang kini tak sengaja turut mengalir didarah mahasiswa-mahasiswanya termasuk saya. Kota yang menyimpan ribuan kenangan pahit manis kehidupan perkuliahan yang jika dituliskan tak cukup buku 500 lembar autobiografi. Jalan hidup yang tak terasa sudah habis hampir 4 tahun. Ya, semester 8 yang tak terasa akan saya habiskan dipertengahan tahun ini. Sangat cepat. Kini, untuk sebuah perjalanan untuk mendapatkan titel sarjana sudah berada pada ujungnya. Masa-masa yang menentukan dan sarat emosi. Masa-masa dimana kamu akan menentukan tujuanmu selanjutnya. Kita bisa saja memilih jalan seperti kebanyakan orang. Kuliah-kerja atau kuliah-lanjut S2. Ya, memang dua pilihan itu yang banyak dipilih kebanyakan orang. Namun jika sudah menentukan tujuan hidupmu setelah kuliah ini. Semuanya akan terasa mudah untuk dipilih. Tidak ada keraguan dan kebimbangan dalam menentukan.

Jalan hidup adalah jalan kita menuju tujuan akhir yang sesunguhnya: jalan kembali kepada-Nya. Itu adalah sebuah kepastian yang terkadang kita sendiri melupakannya. Semua pilihan pasti akan bermuara pada sebuah titik akhir itu. Titik akhir seorang manusia sebelum memasuki dimensi lain:dimensi pertanggungjawaban. Dalam menjalankan kehidupan dunia, setiap orang punya caranya masing-masing. Setiap orang punya orientasi masing-masing. Namun apakah kita mengikuti jalan sebagian besar manusia?. Bagaimana dengan jalan hidupmu? Jalan mana yang ingin kamu pilih sebagai sarana dalam mencapai tujuan akhirmu? Apakah itu benar-benar didasarkan pada kebijaksanaan ataukah hanya didasarkan pada keinginan semu? Cukuplah itu menjadi perenungan untuk diri saya sendiri. Dalam proses ini saya mencoba berusaha yang terbaik untuk diri saya. Menjalani kehidupan kampus dengan masuk ke lingkungan-lingkungan yang menurut saya tepat untuk saya. Lingkungan yang membuat saya berkembang dan banyak belajar. Lingkungan yang didalamnya hadir sosok-sosok yang dapat memacu saya untuk jadi yang lebih baik. Lingkungan yang sejatinya ada karena adanya suatu tujuan. Menuju tujuan yang luhur sesuai dengan bidang dan ranah masing-masing.

Kini hanya ratapan penyesalan yang dapat mengenang pengalaman buruk dan kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat. Serta rasa bangga dan euforia yang pasti akan muncul ketika membuka lagi lembaran-lembaran indah masa lalu tentang suatu pencapaian. Ya itu memang manusiawi. Namun sejauh mana kita menyikapi pengalaman-pengalaman yang telah lalu tersebut menjadi suatu modal pembelajaran yang kebaikannya akan kita gunakan kelak untuk berpetualang di muka bumi. Jika kita membuka kembali lagi hikmah pembelajaran lalu yang kemudian kita sadari ternyata menjadi habbit kita kini, pasti sangat jauh dari ideal. Seolah kita ingin kembali ke masa lalu dan memnyempurnakan habbit kita yang nantinya akan menghasilkan jati diri yang lebih baik dari kondisi sekarang. Itu juga manusiawi. Ketika penyesalan datang di akhir. Dari semua itu pasti akan ada hikmah yang bisa di petik, untuk kemudian menjadi pelajaran berharga untuk kedepannya.

Pengalaman selama 3,5 tahun saya di kota jogja tak lepas dari kehadiran orang-orang yang saya cintai disini. Orang-orang yang dapat membuat saya tersenyum. Orang-orang yang dapat menghibur dikala sedih. Orang yang selalu mengadirkan kebahagiaan, dan orang-orang yang selalu memacu saya untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Singkat kata mereka adalah orang-orang yang selalu menginspirasi dalam setiap aspek kehidupan saya di masa kuliah ini. Banyak waktu yang dihabiskan bersama. Merajut mimpi bersama dalam ikatan keluarga dan persahabatan. Banyak cerita terbagi, banyak inspirasi tersebar. Semua itu saya rasakan di beberapa lingkungan saya berada. Ternyata karakter manusia itu bermacam-macam dan tidak ada yang sama. Saya banyak belajar dari mereka semua. Tentang arti sebuah perjuangan, tentang bagaimana menjadi pembelajar yang baik dan tentang suatu makna besar tentang cinta. Cinta yang dapat menggerakkan manusia untuk senantiasa berbuat kebaikan untuk sesama dan membentuk karya bersama yang didasarkan spirit kebermanfaatan bagi sesama. Itu adalah konsep yang luar biasa menurut saya. Yang menurut saya dapat menjadi solusi utama atas kebobrokan kondisi moral dan adab generasi bangsa. Banyak mereka yang melupakan cinta di dalam kehidupannya.

Dalam masa kuliah ini kami dididik untuk senantiasa menjaga idealisme kami. Idealisme masing-masing. Memang tak ada yang boleh dipaksakan. Semua bergerak bersama membangun asa dan menegakkan keadilan dan kebenaran sesuai dengan kapasitas yang dimiliki. Sesuai cara masing-masing Sebuah perjuangan yang sejatinya luhur. Menjadi warna bagi kehidupan mahasiswa dengan berbagai sisinya. Jalan terjal tak menjadikan kami berbalik arah. Duri yang tajam tidak menjadikan kami jera untuk terus menjamah sebuah inti yang katanya merupakan jalan kebenaran. Semuanya terbalut dalam semangat perjuangan mahasiswa untuk memperjuangkan keadilan dan kebenaran.
Itulah sedikit bagian mahasiswa yang menarik. Yang ternyata jika semuanya bersatu padu merangkai kolase pembangunan bangsa ini akan menghasilkan karya yang luar biasa. Namun terkadang kita tidak sadar kita berjalan untuk satu tujuan. Kita meragukan sisi lain dari tubuh kita sendiri. Bahkan Terkadang saling menyalahkan dan menjatuhkan bahkan menghujat. Sayang. Jangan biarkan bangsa ini menanggung tambahan beban yang justru berasal dari permata-permatanya sendiri. Namun, saya masih meyakini bahwa kita berada pada suatu titik dalam garis proses menuju cahaya. Kita tengah berproses. Percayalah Permata-permata tersebut kelak akan menyinari bangsa ini. Dengan kekuatan bangsa sendiri didasari dengan rasa cinta yang hakiki.

Akhirnya, semuanya harus dievaluasi. Semuanya harus dijeda untuk sementara. Setidaknya untuk melihat kembali perjalanan beberapa tahun di belakang. Menata kembali puing-puing yang berserakan. Untuk kemudian menjadi satu bagian utuh kembali dan menjadi modal untuk menjalani masa depan. Semua perjalanan ini sesungguhnya berawal dari titik nol dan kelak akan kembali pada titik nol. Keadaan manusia yang miskin dan sendiri. Tak ada keluarga dan sahabat ketika semuanya telah dicabut. Yang ada hanyalah bekal yang minim dan sebuah pengharapan akan pengampunan.

Kini semuanya harus dikembalikan pada jalannya...

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe