Menjeda Makna

Januari 08, 2016



Hiasan 'baru' di teras rumah
Duduk santai di ruang tamu rumah dengan ditemani secangkir kopi susu, laptop dan buku catatan merupakan kegiatan yang sangat-sangat jarang saya rasakan selama beberapa tahun terakhir ini. Ya, karena memang selama ini saya menjalani hari-hari saya di kos dan kebanyakan justru dikampus.

Beranjak sejenak meninggalkan rutinitas di jogja dan berkumpul bersama keluarga merupakan kenikmatan luar biasa dari Allah SWT. Melihat orang tua yang masih sehat dan ikut merasakan keceriaan  bersama “cucu baru” juga merupakan suatu kebahagiaan tak tergantikan bagi saya.  Fahim, seorang anak umur 3 tahun yang telah menjadi bagian dari keluarga kami yang sebenarnya bukan cucu dari ibu saya, melainkan salah satu putra dari keluarga kecil yang mengontrak di rumah sebelah telah membawa suasana baru di rumah ini. Mereka telah menjadi warna baru keluarga dan menjadikan hari-hari tua ibu bapak lebih bermakna.

Pagi ini saya merasakan suasana baru di rumah. Terasa berbeda dari biasanya-pada kepulangan saya sebelum-sebelumnya. Pagi ini saya begitu menikmati kicauan burung dalam sangkar yang digantung diteras rumah. Sejak beberapa minggu terakhir suami mba membawa beberapa burung dan sangkarnya ke rumah ngunengan. Setiap harinya, bapaklah yang menggantung tiap pagi dan menyimpan, serta merawat dan memberi makan burung-burung tersebut. Haha ini adalah pemandangan yang menurut saya cukup unik dan tentunya semakin menambah kegiatan bapak di masa-masa tuanya selain menjadi “Eyang kakung” bagi “cucu”nya Fahim. Kicauan burung di teras semakin menambah suasana syahdu di ruang tamu rumah pagi ini.

Pada kepulangan saya kali ini , saya juga mendapati sesuatu yang berbeda dari rumah. Yakni, sebuah kebun sayuran disebelah kanan rumah saya. Siapa lagi kalau bukan ibu. Ya, Ibu kembali memulai hobi lamanya-berkebun. Sejak pohon-pohon jati disamping rumah ditebang untuk acara nikahan kakak agustus lalu. Sepetak lahan tersebut dimanfaatkan ibu untuk bercocok tanam tanaman sayuran seperti terong, pare, kangkung, lembayung, ubi dan lain sebagianya. Tidak luas memang, namun sepetak kebun tersebut sudah cukup membuat ibu puas bisa menyalurkan hobi yang sudah lama ia tinggalkan sejak 3 tahunan yang lalu. Melihat itu saya juga ikut senang dan bangga dengan ibu saya, dengan kegigihan dan ketekunannya merawat kebunnya. Itulah ibu saya.
***
Hari ini hari terakhir sebelum besok kembali lagi ke Jogja. Empat hari yang cukup melegakan bagi saya. Empat hari yang dirasa cukup untuk sekedar melepas kangen bersama orang tua dan segala macam hal yang ada dirumah ini. Serta empat hari yang membuat saya semakin sadar bahwa waktu akan terus berjalan dan konsekuensinya dalah bertambahnya umur setiap manusia, termasuk orang tua. Kami adalah keluarga kecil, dengan jumlah hanya 5 orang. Ditambah 2 istri dan suami dari mas Ois (kakak saya yang pertama) dan Mba Eva (Kakak saya yang kedua). Ya, dan saya sendiri adalah anak terakhir. Kakak saya yang pertama telah lama berdomisili di Jember dan telah mempunyai dua orang anak. Sedangkan kakak saya yang kedua baru menikah bulan agustus lalu dan saat ini tengah hamil muda. Kakak saya yang kedua saat ini masih tinggal di ngawi, secara bergantian tinggal di rumah, di Polindes Gunung Sari dan di rumah mertua di kedunggalar. Tahun ini, bapak telah menginjak usia 62 tahun lebih. Sedangkan ibu lebih muda sekitar 14 tahun, yakni 48 tahun. Tentu diumur umur-umur tersebut, khususnya bapak telah memasuki umur lanjut usia. Sesekali saya mengamati, jalannya bapak sudah tidak lagi tegak. Bapak sudah agak bungkuk, dan rambut putihnya juga menambah kesan umurnya yang sudah semakin tua. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan umur yang panjang dan kesehatan, serta penghujung umur dengan limpahan keberkahan dan hidayah kepada kedua orang tua saya. Aamin...

Pada hari hari biasa ketika kakak tidak menginap dirumah, Ibu dan bapak hanya tinggal berdua. Suasana rumah semakin sepi karena saya jarang pulang ke rumah. Namun keadaan tak terjadi lagi sejak dua tahun terakhir ini. Ketika hadirnya seorang anak kecil bernama fahim di tengah-tengah keluarga kami. Sejak saat itu Bapak dan Ibu telah menjadi Eyang kakung dan Eyang Putri, “Kung” dan “Uti”. Bahkan rasa sayang fahim ke “Uti”nya bisa jadi lebih besar daripada rasa sayangnya ke Uminya.

Saya beberapa kali harus tertawa ketika melihat fahim yang bertingkah lucu dan menggemaskan ketika bermain. Bentuk responnya terhadap suatu keadaan sudah seperti anak 5 tahun. Bagaimana dia menunjukkan rasa sayangnya kepada “Uti”nya membuat saya heran sekaligus gemas. Salah satunya ketika kemarin saya dan kakak iseng memeluk ibu didepan fahim, sambil mengatakan “Uti lho  punyanya Mba Fafa dan Mas Hendra...” seketika fahim langsung melepaskan pelukan kami dan memukul kami agar tidak lagi menyentuh “uti”nya, dan seketika ia langsung mendekat kepangkuan “uti” seolah ingin berkata “Ini utinya fahim, fahim sayang uti”. Haha kamipun langsung tertawa terpingkal-pingkal melihat kelakuan si kecil fahim. Rasa sayang yang diberikan Bapak dan Ibu kepada anak ini sangatlah besar hingga menjadikannya amat sayang kepada Kung dan Utinya. Dari pagi sampai malam hingga kadang tertidur dirumah disamping utinya. Dan Ibu bapakpun telah rela direpotkan setiap hari atas dasar sayang dan cinta.

Ketika rasa sayang terbentuk bukan karena ikatan darah. Rasa sayang yang timbul dari sebuah ketulusan cinta. Naluri orang tua untuk menanamkan pendidikan pada bibit masa depan. Dan ketika melihat seorang anak tumbuh dewasa dan menjadi manusia yang kelak bermanfaat untuk orang-orang disekelilingnya, adalah sebuah kebanggaan dan kepuasan batin bagi orang tua.
Disisi lain saya melihat kebahagiaan juga terpancar dari Bapak dan Ibu. Saya berharap mereka semakin menikmati hari-hari dengan ketentraman dan kelembutan hati di hari tua mereka. Serta menyalurkan kesibukan hari-hari mereka dengan hal yang sangat positif. Disisi lain, Saya juga senang sampai saat ini mereka masih rutin berolahraga setiap sore, dapat berinteraksi dengan tetangga dan menjalin hubungan baik dengan lingkungan sosial.  Ibu juga tetap “sregep” dengan kebunnya. Semoga Allah senantiasa melimpahkan kesehatan kepada ibu bapak.

Akhirnya pada hari ini saya harus merefresh semua rasa lelah yang mungkin masih ada. Untuk segera memperbaharui semangat untuk bisa menjadi manusia yang lebih bermakna untuk masyarakat lingkungan sekitar sesegera mungkin. Pastinya dengan tetap menempatkan bakti kepada orang tua mutlak menjadi prioritas utama, sebelum semuanya dilakukan. Saya juga bersyukur pagi ini dapat melihat semua yang ada disini dengan sudut pandang kebagiaan dan ketenangan. Ditemani suasana baru dirumah ini, bersama orang orang yang amat saya sayangi. Suasana yang mungkin ketika dewasa tidak bisa saya rasakan kembali. Suasana kehangatan dalam sebuah keluarga kecil di kota kecil yang tentram. Tanpa ada keramaian dan kesibukan yang bisa membuat penat dan bosan. 

Suasana dalam hangatnya kasih sayang orang tua. Ibu yang selalu menyediakan sarapan sepagi mungkin, kopi susu yang dihidangkan dengan cintanya, dan Bapak dengan kebiasaan-kebiasaan paginya, dan masih nampak sehat walaupun sudah cukup berumur. Dan juga kakak yang masih saja seperti biasanya, selalu ramai dan keras dalam segala urusan. Bahkan keadaan itu sama sekali tak berubah walapun dia sudah mempunyai suami. Ya, semua itu hanya bisa saya rasakan di rumah ini. Sebelum semuanya berakhir dan sebelum Allah memutuskan takdirNya. Allahua’lam bisshowab.

Untuk Ibu, Bapak, Mb Eva dan Mas Ois
Ngawi 19 Desember 2015
Di kursi ruang tamu rumah

Kebun samping rumah
"Cucu" dan "Eyang"

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe