Sebuah Babak Baru

Januari 31, 2016

Hari ini kami berangkat ke karanganyar. Menuju sebuah tempat yang insyaAllah dalam sebulan kedepan menjadi tempat kami belajar.
Menjelang semester delapan ini, kami melaksanakan tugas akademik yang harus kami tuntaskan sebelum kelulusan kami. Kerja Praktek. Ya, kerja praktek adalah salah satu mata kuliah departemen kami. Tidak banyak jumlah sks nya. Hanya satu sks.
Walaupun hanya satu sks, kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kami mahasiswa. Terutama sebagai media pembelajaran kami terkait pekerjaan konstruksi di lapangan.

***

Babak baru akan segera dimulai. Sebuah Titik pada perputaran roda yang pasti akan dialami oleh manusia. Pencapaian pada titik kedewasaan. Semakin bertambah umur, kita dituntut untuk semakin dewasa dalam bertindak, berpikir, dan berucap. Semua pengalaman yang akan menuntun kita berjalan lebih maju lagi.

Di semester akhir seperti saat ini adalah waktu yang sangat menentukan untuk keadaan ditahap selanjutnya. Bagaimana saat ini pola pandang dan orientasi kita akan menjadi sangat berbeda dibandingkan dengan saat-saat kita menjadi mahasiswa semester awal hingga pertengahan menjelang akhir.  Semua gambaran masa depan terlihat lebih jelas dan nyata. Semua jalan terbujur panjang beruas-ruas dan sangat banyak jumlahnya. Kita bebas memilihnya, kita bebas menentukan jalan hidup kita, atas izin Allah SWT.

Menjelang umur 22 ini pula, dalam waktu dekat semuanya akan menuju bentuk dan pola sesungguhnya. Dimana dalam umur ini seseorang sudah mulai mematangkan dirinya. perilaku, tabiat, kebiasaan, pola keseharian, caranya membagi waktu, caranya berinteraksi dengan orang lain, dan pola pembelajaran agama, semuanya sudah melekat dalam diri dan siap digunakan untuk menjalani kehidupan sebenarnya.

Dalam waktu dekat ini pula, saya akan menemui sebuah kenyataan. Menemui sebuah persaingan dan mengalami proses pembelajaran di stage selanjutnya. Beberapa waktu lalu, sebuah tulisan mengingatkan saya pada sebuah ironi sekaligus tamparan kepada diri saya. Saya disadarkan kembali pada sebuah kenyataan dimana saudara-saudara kita di belahan kampus lain telah ditempa dengan tekanan yang jauh lebih tinggi daripada kami disini. Sebuah kultur belajar yang bisa jadi lebih baik dari kultur belajar kami disini. Tidak dapat dipungkiri bahwa disini saya masih bisa merasakan keleluasaan yang berlebih-lebih dari dosen dan sistem perkuliahan. Apakah tidak lebih berbahaya jika kita dininabobokkan dengan kultur yang santai tanpa tekanan ini? Haha, lagi-lagi saya dihadapkan pada perasaan ini. Tidak ada waktu lagi, tak ada pilihan lain untuk segera bersiap menata masa depan dengan optimisme dan semangat tinggi. Jadikan itu sebagai cambuk dirimu vem!

Pada akhirnya,  saya harus segera tersadar kembali dan segera bangun menyiapkan hari-hari esok. Hari -hari esok yang sangat saya harapkan untuk lebih baik dari sekarang, tentunya jika Allah SWT mengizinkan.
Bismillah

31 Januari 2016
Ditemani hujan rintik diserambi kos

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe