Perburuan Beasiswa: Lesson Learned (Bagian 2)

Juli 30, 2017



Dalam bagian kedua tulisan ini saya ingin berbagi beberapa poin utama yang saya dapatkan saat berjuang mendapatkan beasiswa S-1. Mungkin yang saya sampaikan disini tidak seperti pada tulisan tentang tips dan trik mendapatkan beasiswa, seperti halnya pada tulisan-tulisan yang lain yang udah banyak banget muncul di google search pas kita masukkan kata kunci terkait. Disini saya coba membagikan sesuatu yang entah apa saya juga ga begitu ngerti bisa diterapin atau engga. Tapi yang pasti tiga hal di bawah ini, mungkin saja bisa memberi gambaran pola pikir kita saat berjuang mendapatkan beasiswa.

Pertama, saya ingin tekankan bahwa faktor yang paling menentukan dalam mendapatkan beasiswa adalah: NIAT DAN TEKAT KUAT. Dalam mencapai segala sesuatu, tak hanya mencari beasiswa, niat dan tekat kuat sangat-sangat dibutuhkan. Tanpa adanya itu kita, ibarat perang, kita akan kalah sebelum perang dimulai karena kita masih belum cukup selesai dengan diri kita. Apa yang menjadi motivasi dalam diri kita menjadi faktor yang paling menentukan seberapa jauh dan keras usaha kita dalam mencapai sesuatu. Disamping niat dan tekat kuat, yang mengikutinya adalah: motivasi. Motivasi akan menjadi dasar mengapa kita harus melakukan ini itu untuk mencapai keinginan kita. Tentunya hal baik yang kita ingin capai di masa depan, sudah seharusnya dan sepantasnya kita capai dengan niatan dan cara yang baik pula. Maka niat lurus yang diperkuat di awal sebelum kaki melangkah menjadi sangat penting, sebelum kita memulai peperangan. Dalam hal ini, kaitannya dengan pencapaian kita dalam memperoleh beasiswa adalah kita harus memperkuat niat dan motivasi kita di awal. Mengapa saya harus mendapatkan beasiswa, mengapa hal itu penting untuk saya dan mengapa harus beasiswa, bukan A, B C dan seterusnya. Pertanyaan yang diawali dengan kata mengapa dan mengapa harus clear terjawab di awal. Dengan itu kita telah mempunyai niatan dan motivasi yang cukup sebelum memulai berjuang. Kalau saya pribadi, saat itu, niatan yang paling realistis adalah saya ingin meringankan beban orang tua dan (It has to be) menggunakan support beasiswa untuk hal-hal positif dalam rangka mempersiapkan diri untuk berbakti pada negara dan agama. Karena ini akan menjadi sangat substansial mempengaruhi pola pikir sedar awal, dan kemudian akan mempengaruhi jalan-jalan yang kita pilih kedepannya dalam meraih suatu pencapaian. Untuk orang tua dan bekal diri agar bisa berbakti untuk lingkungan yang lebih luas.

Kedua, yang tak kalah penting dari Niat, Tekat dan Motivasi adalah: MINDSET. Jangan sampai kita beranggapan bahwa beasiswa hanyalah milik orang-orang yang pintar dengan prestasi selangit, ataupun kamu merasa bahwa kamu tak cukup pantas untuk mendapatkan beasiswa itu. Banyak beasiswa dengan target sasaran yang berbeda-beda, seperti beasiswa bidik misi yang lebih menyasar pada mereka dengan ekonomi kurang mampu, ataupun beasiswa-beasiswa swasta yang beberapa diantaranya ditunjukan pada mereka yang memang punya bakat dan potensi yang lebih, dari segi softskill, ataupun beasiswa yang diperuntukkan bagi mereka dengan prestasi segudang, atau bahkaan ada juga lho beasiswa yang khusus diperuntukkan untuk teman-teman yang sedang mengalami kesulitan dari segi akademik yakni misalnya beasiswa yang diperuntukkan untuk mahasiswa dengan IP misal di bawah sekian-sekian, unik kan, hmmm. Maksud saya di sini adalah bahwa ada sangat banyak beasiswa dengan sasaran yang berbeda-beda. Kita bisa tentukan posisi kita ada di mana, kecenderungan apakah kita termasuk mahasiswa yang benar-benar membutuhkan support pendanaan dalam artian gaji atau hasil pekerjaan orang tua mepet atau bahkan tidak cukup untuk membiayai kuliah kita, atau kita termasuk pada kelompok mahasiswa  yang punya prestasi segudang saat SMA, atau kita punya bakat dan potensi yang bisa kita tunjukkan saat seleksi beasiswa, ataupun yang lainnya yang itu kita pasti lebih tahu atas jawaban itu semua. Disini yang ingin saya bagi ke teman-teman, hasil dari apa yang saya alami, adalah jangan sampai kita membuat asumsi sendiri dengan merasa tidak pantas dan tidak cukup kompeten untuk mendaftar beasiswa tertentu. Paling penting yang perlu kita pikirkan di awal adalah bagaimana kita bisa berjuang untuk mendapatkan beasiswa yang kita ingin capai. Jangan sampai kalian merasa kalian tidak masuk kriteria, padahal jelas-jelas dari segi persyaratan administrasi kalian memenuhi persyaratan. Atau juga jangan sampai merasa minder Karena saingan yang mungkin sangat banyak dan sebagian besar lebih berkompeten dibandingkan denganmu. Jangan biarkan keraguan-keraguan di awal menguasaimu. Kamu punya hak yang sama dengan mereka, dan let say bahwa untuk mendapatkan beasiswa idamanmu, kamu tidak harus lebih pintar, cerdas, berbakat, mempunyai segudang pengalaman organisasi ataupun kamu memang benar-benar tidak cukup mampu dari segi ekonomi. Karena salah satu contohnya, dalam hal kecukupan ekonomi, itu relative banget bro, masing-masing orang bisa mempunyai standar yang berbeda. However, one thing that you must remember is kita juga harus sadar diri apakah kita benar-benar berhak untuk itu atau tidak. Seperti misal beasiswa untuk ekonomi lemah, sedangkan gaji orang tua kita taruhlah 10 juta perbulan. Ya sudah barangpasti kita tidak cukup berhak  untuk mendaftar beasiswa itu. Ada banyak teman-teman kita diluar sana yang jauh lebih berhak mendapatkannya.

Sekedar sharing, saat saya mendaftar beasiswa Samsung. Dari beberapa persyaratan awal yang dicantumkan, salah satunya adalah “diprioritaskan mahasiswa dari keluarga yang mempunyai kendala finansial”, disamping syarat-syarat lain yang sifatnya umum seperti IP minimal 3 dan merupakan mahasiswa fakultas Teknik angkatan 2012. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, bahwa terkait ekonomi kadang terlalu relative, masing-masing standar orang berbeda. Seperti contoh, misal, pada beasiswa bidik misi. Sebelumnya, maaf, saya mendapati banyak cerita dari kawan bahwa beasiswa tersebut nyata-nyatanya tidak cukup tepat sasaran, yang notabene harusnya diperuntukkan untuk teman-teman yang kurang mampu. Saya jadi ingat beberapa tahun lalu saat saya baru lulus SMA, dimana saya merasa tidak cukup pantas mendaftar beasiswa tersebut, Karena kami menilai keluarga kami bukan termasuk keluarga kurang mampu, dan sudah selayaknyateman-teman yang lebih kurang mampu yang lebih pantas mendapatkannya. Nah, namun setelah setahun dua tahun kuliah, malah saya mendengar  just in some case (yang sebenarnya hanya sebagian kecil, mungkin), saya mendapati beberapa kawan-kawan saya yang menurut saya, ya, menurut saya tergolong keluarga tidak mampu (beberapa saya tahu latar belakang keluarganya) justru tidak disupport oleh bidik misi, justru beberapa kawan yang “nampaknya” lebih mampu, justru mendapatkan bidik misi. Saya tidak bermaksud menjudge atau bagaimana-bagaimana. Itupun juga pasti sebagian kecil dari sekian banyak penerimaan yang tepat sasaran atau ada faktor-faktor yang lain seperti misalnya mereka yang sebenarnya kurang mampu tidak sempat mendaftar, atau bahkan mereka sudah merasa cukup dan tidak berhak mendapatkan beasiswa bidik misi tersebut. Yang jadi poin utama disini adalah bagaimana kita lebih bijaksana saja. Masing-masing pastinya punya filter tersendiri, terkait apakah saya pantas mendapatkannya atau tidak. Lalu, biarkan yang bertugas yang memilih apakah kita pantas untuk mendapatkan beasiswa tersebut atau tidak. Selama niat kita baik dan kita punya segudang rencana untuk berprestasi kedepannya, saya rasa beasiswa menjadi hak semua orang dan pantas untuk diperjuangkan. Sekedar sharing, saat dulu saya mendaftar beasiswa tersebut, saya harus melampirkan slip gaji orang tua, dimana gaji Bapak saat itu (dan bahkan sampe pension) tidak lebih dari 1,9 juta. Mungkin menurut kami itu adalah nominal yang sangat cukup untuk keluarga kami, apalagi kami punya sosok Ibu yang sangat baik mengatur keuangan hingga bisa menyekolahkan kami hingga tingkat perguruan tinggi. Namun mungkin penentuan itu masih sangat relative bagi orang lain. Banyak sekali faktor yang mempengaruhi. Kita tidak bias bilang dengan mudah bahwa seseorang tergolong anak dari keluarga mampu atau tidak. I don’t wanna judge someone just from one point of view, physically.

Ketiga, dan yang terakhir adalah: PERCAYA. Percaya pada Allah bahwa jalan masing-masing sudah diatur. Kita sangat dianjurkan untuk bekerja keras dan mengiringi usaha dengan doa, untuk apapun hal yang ingin kita capai, selama itu baik dan diniatkan untuk mencari ridho-Nya. Hal ini bisa menjadi esensial banget bagi kita. Karena ini pulalah yang akan menentukan respon kita terhadap hasil, entah tercapai atau tidak, sudah atau belum. Darimana kita mulai nantinya akan mempengaruhi kemana kita sampai. Keberhasilan dan kegagalan hanyalah dinamika kehidupan yang saling melengkapi. Tanpa adanya kegagalan tak kan ada istilah keberhasilan. Dan dari ayat Quran yang sangat terkenal: “Sesungguhnya dibalik kesulitan itu ada kemudahan”, itu sudah cukup menjawab semuanya, tentang bagaimana kita menghadapi kegagalan. Pun juga dengan keberhasilan yang sudah selayaknya diikuti dengan rasa syukur dan percaya bahwa itu murni pemberian-Nya. Hmmm, di poin terakhir ini kayaknya serius banget ya. Tapi ya memang itu adanya, biar kita bisa jadi orang yang ikhlas dan selalu positif thinking pada semua hal yang sudah, sedang, dan akan kita alami.
Mungkin itu yang saya dapati selama berupaya mendapatkan beasiswa selama S-1 kemarin. Maaf jika tulisan saya cukup abstrak untuk dimengerti. Karena memang adanya itu sih, yang saya rasakan selama ini, instead of tips-tips yang udah umum dibicarakan di buku tips beasiswa dan blog yang udah banyak orang menulis. Maaf juga kalau apa yang saya bagi tidak cukup aplikatif untuk diterapkan, tapi saya percaya tiga hal di atas bisa jadi pondasi kita untuk lebih taf dalam menghadapi peluang di masa depan (pada umumnya). Oke Thank you. See you on the next post…

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe