Tentang Pilihan Lanjut Kuliah (Bagian 2: Habis)

Agustus 06, 2017


Bagi saya, pilihan hidup atas pemilihan profesi atau pekerjaan merupakan salah satu hal yang sangat-sangat penting. Yang membuat saya harus bertanya pada diri sendiri, apa yang saya inginkan dalam hidup di dunia ini? Kita tak bisa dengan mudahnya memilih pekerjaan yang nantinya kita geluti. Jangan-jangan kita tak sadar telah terjerumus pada arus sungai yang kita tak arahnya kemana atau kita mengikuti jalan yang seharusnya tidak kita ikuti. Saya lebih memilih untuk menguatkan keinginan saya terlebih dahulu, tentang ada dimana nanti saya akan berkarya, dan saya akan mencoba konsisten dengan pilihan tersebut. Baru kemudian saya coba membuat arus saya sendiri yang tujuan akhirnya telah saya tetapkan. Dengan demikian, titik start, alternatif jalur dan titik finish sudah bisa saya lihat dan rencanakan. Dan saya akan berjuang sekeras mungkin untuk mencapai itu.


Pertama kali memilih bidang ini (Teknik Sipil) sebagai keahlian saya, jujur saya tak punya pertimbangan matang selain prospek kerja. Saat saya baru lulus SMA, saya belum sama sekali berpikiran untuk apa keahlian saya nantinya untuk masa depan saya, dalam artian yang lebih luas, tak sekedar lapangan kerja. Namun setelah belajar dan memahaminya selama 4 tahun, saya baru sadar bahwa ternyata bidang saya ini amat dekat dengan masyarakat. Mulai dari namanya saja “Sipil”, dari kata civil yang secara bebas diartikan penduduk/masyarakat. Seluruh penerapan ilmu ini ujung-ujungnya adalah pada infrastruktur di semua bidang, mulai dari bangunan secara umum, keairan, transportasi, dan lingkungan yang itu amat dibutuhkan masyarakat. Dari pemahaman itu saya semakin mencintai bidang yang saya geluti ini untuk nantinya saya gunakan untuk kontribusi yang lebih luas. Hingga akhirnya menuntun saya untuk mendalami bidang ini lebih jauh. Dari sekian bidang perminatan, saya terarahkan untuk menekuni bidang sipil keairan yang entah kenapa diawali dari “kecelakaan” karena tidak kebagian kelas permintaan struktur (bidang yang sebelumnya saya inginkan). Semakin jauh, saya semakin tertarik untuk mendalaminya di jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yakni di jenjang S2. Ditambah lagi karena pilihan saya untuk menjadi pengajar semakin kuat, saya rasa pilihan jalan untuk melanjutkan studi S2 adalah cukup tepat.

Setelah berproses selama kuliah, dan semakin kuatnya keinginan saya untuk mendalami ilmu ini. Akhirnya pilihan saya terkait orientasi profesi di masa mendatang adalah jatuh pada Dosen/ Pengajar. Pilihan untuk menjadi dosen, sebagian besar dilatarbelakangi oleh hasil observasi saya selama beberapa tahun terakhir ini, tentang bagaimana kondisi dunia kerja di bidang per-sipilan khususnya konstruksi. Saya coba benar-benar memahami bagaimana jika saya nantinya menekuni pekerjaan itu. Sekedar informasi, bahwa mainstream sebagian besar lulusan S1 jurusan teknik sipil banyak diserap oleh perusahaan-perusahaan khususnya di bidang konstruksi (infrastruktur) atau di bidang lainnya seperti pertambangan dan perminyakan baik itu sebagai pelaksana jasa konstruksi (kontraktor), perencana (konsultan), ataupun pemilik (owner), serta sebagian lainnya di pemerintahan seperti Kementerian PUPERA, Transportasi dlsb. Dari sekian banyak lapangan pekerjaan yang bisa dimasuki, kontraktor BUMN menjadi yang paling populer diantara yang lain, dimana setiap tahunnya bisa sampai 2-4 kali rekrutmen Management Trainee untuk S1. Bahkan teman-teman seangkatan saya hampir sebagian besar berbondong-bondong memilih untuk menjadi kontraktor. Hingga di grup LINE angkatan saat ini, lowongan-lowongan kerja kontrak tidak cukup menarik karena sebagian besar mereka statusnya sudah pegawai tetap. Jadi sebenarnya lapangan kerja di bidang ini sangat terbuka luas bagi kita yang memang ingin langsung kerja. Namun setelah saya coba pelajari bagaimana gambaran umum pola kerja dari sebagian besar pekerjaan yang saya sebut sebelumnya, nampaknya saya tidak cukup tertarik. Saya merasa passion saya bukan disitu. Saya merasa saya bisa berkontribusi lebih maksimal selain di ranah-ranah tersebut. Saya mencoba mengisi satu slot peran yang itu hanya dipilih oleh sepersekian orang, yang mengikuti distribusi normal, yakni dengan menjadi dosen. Selain itu dosen merupakan salah satu mimpi saya, ketika saya menulisnya 5 tahun yang lalu saat saya baru awal-awal menjadi mahasiswa. Pun saya rasa dengan mengajar atau dengan menjadi dosen akan mendukung beberapa mimpi saya untuk jangka panjang salah satunya dengan mendedikasikan sebagian waktu saya untuk kegiatan lain di luar kerja, seperti menginisiasi kegiatan-kegiatan berbasis sosial dan kemanusiaan atau semacamnya. Ditambah dengan pola kerja yang cukup ramah keluarga, artinya saya masih punya waktu yang cukup untuk digunakan berkumpul bersama keluarga. Hingga akhirnya setelah melakukan observasi gambaran ranah kerja yang saya inginkan telah ter-definisikan dengan cukup baik. Yang itu sangat mempengaruhi pilihan salah satu jalan menghubungkan titik start menuju finish yang terkoneksi dengan beberapa rencana jangka panjang yang dulu saya tuliskan.

Disamping itu, menurut saya, salah satu kegiatan yang menyenangkan dan menarik adalah mengajarkan ilmu kepada generasi selanjutnya. Dari situ kita bisa menanamkan nilai yang selama ini kita yakini kebenarannya, disamping ilmu-ilmu eksak. Saya ingin mengisi ruang-ruang kosong pendidikan yang banyak ditinggalkan, yaitu adalah pendidikan moral dan pemikiran kritis. Dua hal itu yang menurut saya harus lebih ditanamkan lagi kepada mahasiswa. Dimana ilmu eksak tak akan bisa berdiri sendiri tanpa adanya modal moral dan pemikiran kritis yang ber-orientasi kan solusi. Karena selama ini saya amati, poin-poin itulah yang menjadi pembeda sistem pendidikan di Indonesia dan di luar negeri. Dimana jika di luar negeri pemikiran terbuka akan permasalahan di sekitar benar-benar dikedepankan mendampingi kemampuan akademik. Berbeda dengan di Indonesia pada umumnya, dimana kemampuan akademik masih menjadi nomor satu dan menjadi tolak ukur utama kualitas lulusan. Padahal di luar sana, telah menanti banyak permasalahan yang menunggu solusi dari kita, yang kadang tidak cukup dituntaskan hanya dengan kemampuan akademik namun juga kemampuan-kemampuan softskill yang lain. Hingga yang paling penting dari itu semua adalah, dimana dengan menjadi dosen setidaknya saya bisa urun kontribusi untuk mencetak generasi-generasi penerus yang bisa menjadi agen perubahan untuk bangsa dan agama di tengah keadaan bangsa yang masih merangkak lambat. Terdengar muluk-muluk, tapi ini menurut saya yang benar-benar menjadi motivasi bagi saya untuk memilih jalan kontribusi yang ini.

Akhirnya saat itu saya sudah mantap dengan pilihan saya dan segera menyelesaikan gap-gap yang ada dalam diri saya. Memulai persiapan dan langsung melangkah mendekati start, bersiap untuk berjuang untuk dapat melanjutkan kuliah S2. Sebagai salah satu opsi yang akhirnya saya pilih, saya memilih untuk melanjutkan kuliah di luar negeri atas beberapa alasan yang akan saya ceritakan di tulisan selanjutnya.



You Might Also Like

1 komentar

  1. Ini pertimbangan-pertimbangan yg sempet aku cari berbulan bulan yang lalu...dan ternyata ditulis disini. Very nice pak vemp.

    BalasHapus

Subscribe