Dibalik Keinginan Kuliah di Luar Negeri

Agustus 24, 2017

Beberapa hari lalu, ada teman yang bertanya via private message WhatsApp. “Eh vem, ketika kamu memutuskan untuk study abroad, sempat mengalami dilema nggak?”

Sumber: irishtimes.com

Munculnya pertanyaan seperti itu menurut saya sangat wajar, terutama bagi mereka yang dihadapkan pada dua pilihan lanjut kuliah lagi atau nggak, di dalam negeri atau di luar negeri. Hal itu menunjukkan bahwa, sebagian dari kita yang punya rencana untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri pasti sempat mengalami dilemma, ya dilemma. Kalau menurut kamus Besar bahasa Indonesia dilema diartikan sebagai situasi sulit yang mengharuskan orang menentukan pilihan antara dua kemungkinan yang membingungkan. Kalau bahasa masa kininya mungkin ‘galau’ kali ya?

Setiap manusia pasti pernah dihadapkan pada dua pilihan yang sulit, kaya pas milih pasangan hidup. Sebelum memilih pasti akan melalui pertimbangan yang matang dan mungkin harus beberapa kali istikharah, minta petunjuk kepada-Nya. Begitupun juga dengan pilihan hidup secara umum, pastinya.  Kita harus jeli dan teliti dalam memilih pilihan hidup yang itu sangat menentukan bagi masa depan kita. Karena bisa jadi pilihan yang kamu ambil bisa menjadi penentu yang sangat signifikan dalam hidupmu.

Dari sekian banyak pilihan hidup, salah satunya adalah pilihan tentang langsung kerja atau sekolah lagi (khususnya bagi seorang yang baru lulus kuliah atau sekolah). Walaupun memang, menurut survei versi saya sendiri hanya beberapa orang saja yang akan memilih untuk kuliah lagi. Dan dari beberapa orang itu, sebagian kecil saja yang memutuskan untuk melanjutkan kuliah di luar negeri.
Saat dihadapkan pada pilihan-pilihan tersebut saat menjelang masa-masa akhir kuliah, saya coba memahami apa potensi yang ada pada diri saya dan apa peran yang saya inginkan beberapa tahun ke depan (seperti yang sudah dituliskan di sini). Namun, pilihan yang menurut saya cukup berpengaruh adalah pilihan untuk melanjutkan kuliah di luar negeri. Pilihan itulah yang akhirnya membawa saya pada kondisi yang berbeda saat ini. Kondisi dimana saya harus mulai keluar dari kebiasaan-kebiasaan lama dan keluar dari zona nyaman.

Kalau ditanya sempat dilema atau tidak. Jawabannya pasti iya. Setiap orang pasti sempat mengalami “kegalauan” sebelum memilih pilihan yang penting bagi dirinya. Saat saya memilih untuk melanjutkan kuliah di luar negeri, saya cukup galau apakah pilihan tersebut benar-benar tepat.
Namun, kegalauan itu tak berlangsung lama setelah saya coba mengingatkan diri sendiri, bahwa pilihan yang saya ambil adalah salah satu sarana terbaik untuk mengakselerasi sistem belajar serta untuk menambal hutang-hutang kemalasan selama kuliah S-1. Saya merasa, jika masih ingin menjadi dosen, saya harus keluar dari zona nyaman dan menguji batas kemampuan terbaik untuk mencapai suatu titik (yang sebenarnya pada saat itu kurang realistis bagi saya, dengan modal awal yang cukup minim, haha). Dari motivasi itu, dengan cepat kegalauan atas pilihan ya atau tidak itu hilang, dan segera digantikan oleh tekat nekat untuk memperjuangkan untuk bisa kuliah di luar negeri.

Kenapa dibilang nekat? Ya, seperti pada tulisan sebelumnya. Modal saya saat itu tergolong cukup minim. Bisa dikatakan memang saya benar-benar bonek (bondo nekat) pada permulaan proses pendaftaran beasiswa dan kampus. Dimana skor kemampuan bahasa inggris saya belum memenuhi standar kampus luar negeri pada umumnya dan beberapa aspek teknis seperti belum adanya gambaran tentang proposal penelitian dan minimnya bekal pengetahuan terkait publikasi-publikasi yang berhubungan dengan minat research saya. Bisa jadi sebenarnya saat itu saya lebih galau jika melihat belum cukupnya persiapan untuk mendaftar beasiswa dan kampus luar negeri. Namun sekali lagi, kegalauan-kegalauan itu cuma lewat saksliweran saja, dan kemudian digantikan fokus, setelah mencoba meningkatkan kepercayaan diri dan melupakan hal-hal yang negatif.

Saat menjawab pertanyaan teman tentang apakah saya sempat dilema sebelum memutuskan untuk kuliah ke luar negeri, satu hal yang sangat ingin saya ceritakan kepadanya adalah apa yang menjadi alasan saya untuk berusaha bisa kuliah ke luar negeri. Kenapa kita harus jauh-jauh kuliah negeri? Kenapa nggak di Indonesia aja? Alasan-alasan yang muncul pasti sangat beragam antara satu orang dengan yang lainnya, karena yang telah benar-benar menjalani kuliah di luar negeri udah ada jutaan orang Indonesia selama ini, yang mungkin bisa membawa ribuan alasan pula yang berbeda-beda. Disini saya ingin sampaikan alasan saya pribadi (dari satu sudut pandang) mengapa ingin melanjutkan kuliah di luar negeri.

Pertama, seperti yang sudah disebut sebelumnya, yakni saya ingin mengambil program akselerasi untuk pembelajaran saya, dimana saya ingin menempatkan diri ada lingkungan yang lebih mendukung dengan budaya pendidikan dan penelitian yang relatif lebih ketat dibandingkan di Indonesia. Saat itu saya coba membayangkan dan membandingkan diri saya ketika (1) telah menamatkan kuliah S-1 atau Sekolah menengah, dan apa aja sih yang sudah saya peroleh sesaat setelah itu? Sudah maksimalkah? Dari segi akademik, hal apa yang kira-kira sudah saya akukan selama itu? Sudah maksimalkah? (2) pun coba kita bandingkan dua kondisi yang berbeda, kondisi pertama kita melanjutkan kuliah Undergraduate/Master/Doctoral di dalam negeri, di kampus kita atau salah satu kampus terbaik di Indonesia, dan kondisi kedua kita melanjutkan kuliah Undergraduate/Master/Doctoral di luar negeri (negara-negara maju), apakah ada perbedaan? Jika kita dapati perbedaan, pasti pula sebelumnya kita memahami bahwa apa yang telah kita capai di fase pendidikan sebelumnya, dari segi akademik sebenarnya masih belum maksimal dan seharusnya bisa lebih baik lagi (dengan potensi-potensi yang kita punya). Pun kita pasti pula telah memahami gap antara sistem dan budaya pendidikan di Indonesia dan di luar negeri. Perlu dicatat bahwa saat ini kita berbicara tentang output (penelitian, penerapan teknologi) dan sistem pendidikan khususnya di perguruan tinggi di Indonesia, dimana dari segi output pendidikan dan penelitian institusi pendidikan di Indonesia harus berbuat lebih banyak lagi untuk dapat setara dengan standar institusi pendidikan di taraf internasional. Beranjak dari pola pikir tersebut, saya mencoba untuk menyadari bahwa agar bisa menjadi sarjana/peneliti yang lebih baik dari sebelumnya (seperti saat menjalani kuliah S-1), saya harus segera keluar dari zona nyaman dan segera mencemplungkan diri pada program akselerasi tersebut.

Kedua, dari segi pembentukan karakter secara umum. Saya merasa masih sangat kurang dari segi kecakapan, entah itu kecakapan dalam memanajemen masalah, kecakapan dalam berkomunikasi (termasuk kecapakan berkomunikasi dalam bahasa asing), kecakapan dari segi mental, kecakapan dalam memanajemen stress dan kecakapan-kecakapan lainnya yang akan saya butuhkan kelak saat menjadi pemeran sesungguhnya dalam masyarakat. Dari kekurangan-kekurangan tersebut, saya merasa juga harus segera keluar dari zona nyaman saat ini. Setelah beberapa tahun mengalami banyak hal di lingkungan kampus dan kerja, saya percaya bahwa pembelajaran itu adalah suatu keniscayaan dan tidak terlepas dari proses perkembangan manusia. Sudah sejauh mana kita menjadi pribadi yang kompeten dan ideal, itu menentukan ada di posisi mana nanti kita dalam berkontribusi untuk lingkungan sekitar. Saya mendapatkan banyak hal saat kuliah di UGM dan kerja selama 6 bulan di Bandung. Suatu institusi pendidikan, organisasi hingga tempat kerja profesional akan membentuk kita menjadi pribadi yang semakin kompeten. Begitu pula nantinya saya ingin menjadi yang lebih baik dengan mencoba lingkungan yang baru lagi, dimana saya akan mendapatkan pola pandang yang berbeda dari lingkungan international yang beragam. Saya paham bahwa pandangan inipun juga sangat relatif antara satu dengan yang lain. Namun inti dari apa yang saya sampaikan di sini adalah jika kita inginkan output yang berbeda dari yang sebelum-sebelumnya, maka kita harus paksakan diri untuk keluar dari zona nyaman yang ada saat ini.

Tentunya tempat belajar tidaklah terbatas pada tempat yang dismpaikan di atas, institusi pendidikan atau hanya pada pendidikan di luar negeri. Kita perlu sepakat bahwa tempat belajar adalah bisa dimanapun kita berada. Bagi kawan-kawan yang memilih untuk langsung kerja setelah Sekolah menengah atau S-1, tentu tempat dan lingkungan kerja akan menjadi ladang pembelajaran yang bisa jadi lebih efektif bagi kita. Pun juga bagi kawan-kawan yang memilih di ranah lain, dimanapun kita berada bisa kita bisa mendapatkan pembelajaran penting. Tergantung dari segi mana kita memandang, bagaimana kita menyikapinya dan sekali lagi sejauh mana kita keluar dari zona nyaman yang sudah terlalu lama meninabobokkan kita dalam kelembaman.

Dua hal di atas yang menjadi alasan utama bagi saya untuk berencana melanjutkan kuliah di luar negeri, yang menyangkut sisi akademik dan kecakapan diri secara umum. Keduanya berhulu pada latar belakang untuk keluar dari zona nyaman. Karena selama ini saya percaya bahwa, jika kita berada pada kondisi yang sulit dan berat, secara tidak langsung kita sedang bersiap dan disiapkan untuk menjadi pribadi yang lebih hebat dan kuat. Keadaan sulit akan menempa hingga kita punya ketahanan yang tinggi dalam menghadapi masalah, beban bahkan stress yang memuncak. Sebaliknya jika kita ada pada kondisi yang luang dan serba mudah, secara tidak langsung kita sedang menuju titik stagnasi atau berjalan sangat lambat bahkan ekstremnya terhenti seketika dari proses pengembangan diri. Hingga kita merasa semakin ingin berada di dalam zona nyaman terus menerus dan enggan untuk keluar mencari sesuatu yang lebih di luar sana. Dua kondisi tersebut sudah barang pasti memiliki perbedaan hasil dimana produknya adalah kompetensi, kecakapan diri kedewasaan dalam menghadapi masalah.

Setiap orang pasti punya alasan yang berbeda-beda atas sesuatu yang ia pilih untuk kehidupannya. Yang menjadi hal penting adalah kita harus selalu mengingatkan diri sendiri untuk selalu menyandarkan takdir dan keputusan di tangan Allah SWT. Pilihan-pilihan yang telah kita ambil, semoga saja memang benar-benar didasarkan pada keinginan untuk beribadah, apapun itu dan bagaimanapun keadaanya. Dan semoga tak ada dalih untuk membenarkan suatu perkara berdasarkan keinginan semu pribadi.

You Might Also Like

1 komentar

  1. saluuut, semangat masbro semoga perjalananmu mencari pengalaman hidup diberikan kemudahan dan barakallah :)

    BalasHapus

Subscribe