Di balik Orientasi Pencapaian

September 04, 2017


Anggota kelurga kami bukan termasuk keluarga dengan latar belakang pendidikan yang cukup tinggi. Bapak lulusan SLTA dan Ibu hanya lulusan SMP. Anggota keluarga besar dari ibu dan bapak pun sangat jarang yang menamatkan pendidikan hingga perguruan tinggi, rata-rata bulik, paklik, pakde, dan bude rata-rata hanya lulusan SMP dan SLTA. Hanya mungkin beberapa ponakan dan sepupu (yang udah termasuk generasi milenial :D) mulai banyak yang kuliah, namun jumlahnya pun juga tidak seberapa. Tentang latar belakang bidang pekerjaan, keluarga besar sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani, pedagang dan sebagian kecil merupakan pegawai negeri dan BUMN seperti Perhutani (Perusahaan Hutan Indonesia), termasuk Bapak yang mengikuti jejak pakde sebagai pegawai Perhutani, dan terakhir menjabat sebagai KRPH (Kepala Resor Pemangku Hutan) atau biasa dipanggil Pak Mantri (just for your information. Haha)

Dengan pekerjaan Bapak itulah, kami sekeluarga menaruh harap sepenuhnya untuk penghidupan kebutuhan keluarga, Bapak sendiri, ibu, dua kakak dan saya, serta untuk biaya sekolah kami anak-anaknya. Dengan gaji yang menurut saya sangat-sangat terbatas, ibu dengan luar biasanya mengatur uang hingga dapat menyekolahkan kakak pertama hingga D-3 pertanian (dan sekarang sudah sarjana), kakak kedua hingga menjadi seorang bidan, dan saya alhamdulillah hingga menjadi seorang Sarjana Teknik dengan telah menuntaskan pendidikan S-1 Teknik Sipil dan Lingkungan UGM. Dari gaji Bapak yang hanya setengah dari gaji saya saat bekerja 6 bulan di konsultan beberapa bulan lalu, pun ibu masih bisa menyisakan sebagian untuk ditabung. Menurut saya itu luar biasa, tak bisa dihitung secara matematis. Tak heran kalau selama ini kami belajar sangat banyak tentang nilai-nilai kesederhanaan, salah satunya dengan teladan langsung dari “primpen” (setiti)-nya ibu dalam mengatur setiap detil pengeluaran keluarga.

Ibu, Bapak, Saya dan Kakak kedua

Kesederhanaan yang nyata tercermin dari keluarga kami menjadikan semangat tersendiri bagi saya untuk dapat memberikan yang terbaik untuk keluarga kecil ini. Sebagai anak terakhir (yang katanya paling dimanja. wkwk) saya ingin memberikan suatu pencapaian yang itu bisa menjadi bukti atas hasil yang mereka usahakan selama ini. Walaupun ukuran suatu pencapaian itu menurut saya masih sangat relatif dan riskan akan orientasi duniawi belaka, saya berharap apa yang saya usahakan selama ini tak sekedar membuat orang tua bangga dan bahagia saja, namun juga dapat membawa kebermanfaatan untuk orang-orang di sekeliling saya, khususnya mereka orang-orang terdekat dan orang-orang yang paling saya cintai.

Lalu pencapaian seperti apa yang paling diinginkan orang tua terhadap kita. Apakah menjadi anak soleh yang kelak dapat mendoakan dan menolong orang tua di akhirat kelak? Atau pencapaian duniawi, tentang pekerjaan dan jabatan? Status sosial? Atau semuanya? Semua pencapaian terbaik di dunia dan akhirat? Jika kita tanyakan hal itu kepada seseorang, apa yang bisa kamu perbuat dan capai di masa sekarang dan masa depan yang dapat membuat orang tuamu bangga dan merasa sangat berhasil mendidik anak seperti mu, pasti akan muncul jawaban yang sangat beragam. Tergantung bagaimana pandanganmu dan pandangan orang tuamu, serta seperti apa nilai-nilai apa yang mereka ajarkan dan contohkan dalam keluargamu selama ini. Ya, semua tergantung pada pemahaman kita dan orang tua, pemahaman akan orientasi kehidupan dalam artian yang lebih mendalam.

Jika kita bicara tentang pencapaian, yang saya maksud orientasi kehidupan yang lebih mendalam dalam hal ini adalah pencapaian jangka panjang, kehidupan dunia dan kehidupan setelahnya yang jauh lebih hakiki (atau yang kalian biasa tulis HQQ. Haha) Menurut saya tak ada yang lebih penting selain untuk berorientasi pada akhir hidup -khusnul khatimah. Karena sejatinya hidup di dunia hanyalah sementara dan akhiratlah yang menjadi sebenar-benar kehidupan yang kekal dan abadi. Pencapaian kita di dunia hanyalah sarana kita menuju kehidupan akhirat, baik atau buruk, surga atau neraka. Ya, kita tak sepantasnya menjadikan pencapaian dunia sebagai target utama yang harus kita capai, namun bagaimana dengan pencapaian dunia tersebut kita bisa sampai pada target yang jauh lebih panjang, mempersiapkan kehidupan yang kekal. Jika kita telah sepakat dengan itu, maka tidak perlu kita mengejar pencapaian duniawi hingga mati-matian dan membuat kita lupa akan tujuan kita yang sebenarnya.

Lalu apakah pola pikir seperti itu telah ditekankan dalam keluarga kami. Jawabannya, belum. Bapak Ibu bukan berasal dari keluarga santri. Ilmu agama dan wawasan orientasi agama tidak banyak di ajarkan di rumah secara eksplisit. Dorongan untuk berpikir kritis tentang diri kita dan segala sesuatu di sekitar kita juga tak banyak juga tidak banyak diterapkan. Yang ada hanyalah pemikiran-pemikiran sederhana dan tentang how to be a common good people. Walaupun begitu, Ibu dan Bapak selalu memprioritaskan pendidikan termasuk pendidikan agama yakni dengan menempatkan kami di TPA sejak tingkat TK (saat kami berdomisili di Kediri, Bondowoso maupun Banyuwangi). Habit dan nilai-nilai yang ditanamkan di dalam keluarga juga sangat signifikan memberi peranan untuk membentuk pribadi kami yang baik dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebaikan dan kesopanan umum. Hingga nilai-nilai tersebut terpatri pada karakter kami yang relatif  sebagai 'anak baik-baik’ dan ga 'neko-neko' hingga saat ini. Nilai-nilai itu menjadi modal kami selama ini untuk kami kembangkan sendiri saat sudah beranjak dewasa, khususnya sejak awal masa SMA. Dari modal dasar itu, saya berusaha mengembangkan diri dengan banyak mengikuti kegiatan dan organisasi di masa SMA dan kuliah. Dari situ saya belajar banyak hal, termasuk ilmu komunikasi, sosial dan ilmu agama. Ilmu-ilmu yang saya dapat dari dinamika berkegiatan dan bersosial menjadi modal selanjutnya untuk saya gunakan di fase selanjutnya. Pembelajaran yang luar biasa yang saya dapat dari SMA dan kuliah menjadi suatu nilai dalam proses untuk menjadi lebih dewasa, dewasa dalam segala hal, mulai dari pemaknaan atas orientasi hidup, hingga kedewasaan dalam menghadapi segala permasalahan hidup.

Hingga tahap ini, saya telah ada di tahap dimana saya dapat menyampaikan pandangan dan pendapat saya kepada orang tua sebagai seorang yang telah dipandang cukup dewasa. Di tahap ini pula saya menjadi lebih terdorong untuk banyak memberikan masukan kepada Bapak Ibu terkait banyak hal, mulai dari memberi masukan kepada ibu terkait masalah yang sedang dihadapi, mengajak ibu dan Bapak untuk bisa lebih disiplin sholat di awal waktu, hingga menyampaikan rencana-rencana saya kedepannya terkait karir dan pendidikan; sebagai seorang yang telah cukup matang dan layak untuk diberi kepercayaan. Termasuk terkait pilihan untuk melanjutkan kuliah lagi, karir hingga rencana pernikahan. Kini saya tak canggung lagi untuk mengobrolkan tentang hal itu, dan tentunya, saya bisa lebih percaya diri dalam menyampaikan pendirian dan pandangan-pandangan pribadi kepada orang tua atas hasil apa yang saya dapat dari proses pembelajaran dari luar selama ini.

Ibu, Kakak kedua, Saya dan Ibu

Terkait pencapaian seperti apa yang saya dan orang tua inginkan kedepannya, saya banyak menyampaikan pandangan saya tentang keinginan untuk mengajar dan bekerja di tempat yang menurut saya tepat dan membawa kebaikan, baik untuk saya maupun orang-orang di sekitar saya. Bapak Ibu yang pada dasarnya cenderung lebih cenderung mempercayakan pilihan kepada anaknya (termasuk saat saya memilih jurusan teknik sipil untuk studi S-1), tidak ingin memaksakan saya untuk langsung kerja. Termasuk saat saya sampaikan ketidak-inginan saya untuk bekerja di kontraktor, dan konsultan (sebagai pekerjaan mainstream anak sipil), mereka sudah cukup percaya dan menerima alasan-alasan yang saya sampaikan untuk melanjutkan studi S-2, S-3 dan kemudian berupaya menjadi seorang dosen. Tentang orientasi pencapaian, sesekali saya tanyakan tentang apa yang kira-kira bisa membuat ibu bahagia di masa-masa tua ini? Jawaban ibu memang masih berkutat pada hal-hal yang sebenarnya sudah saya sampaikan di atas, a common orientation, yakni tentang pekerjaan, keluarga (istri dan anak-anak) dan status sosial. Namun setelah saya pikir-pikir kembali jawaban orang tua seperti itu menurut saya masih cukup wajar sih, karena kita bicara pada konteks yang berbeda -lebih realistis. Toh pada konteks yang lebih esensial lagi, penekanan kembali pada tujuan saya yang lebih panjang, untuk apa saya jadi kuliah lagi dan menjadi dosen, serta mengapa harus dosen telah saya sampaikan tuntas kepada mereka, khususnya ibu.

Hingga akhirnya, keyakinan, kepercayaan dan harapan orang tua saat ini menjadi modal sekaligus motivasi bagi saya untuk bisa menjadi apa yang orang tua inginkan. Tentu dengan pemahaman bahwa apa yang kita upayakan di dunia ini nantinya tidak akan kita bawa di kehidupan yang lebih kekal kelak, kecuali amalan-amalan jariah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak yang soleh.

Harapan orang tua terhadap kita agar dapat meningkatkan status sosial keluarga saya maknai sebagai bentuk apresiasi atas usaha luar biasa mereka dari nol dulu hingga sekarang. Ibu yang di masa muda dulu rela angkut kayu, dan berulang kali ganti orang tua asuh agar dapat makan sehari-harinya pasti suatu saat ingin melihat anaknya berhasil dan dapat membanggakan orang tuanya. Saya ingin menjadi anak terakhir yang at least bisa membanggakan mereka di dunia, meringankan beban mereka dan lebih jauh lagi dapat menolong mereka di akhirat kelak, atas bentuk hutang budi yang sebenarnya tak akan bisa terbayar lunas hingga nanti.

You Might Also Like

8 komentar

  1. Kalo blog bisa di-like yaa, Pak. Tulisan ini pengen tak kasih like. Dan kalimat ini:
    "...meringankan beban mereka dan lebih jauh lagi dapat menolong mereka di akhirat kelak, atas bentuk hutang budi yang sebenarnya tak akan bisa terbayar lunas hingga nanti." <3

    BalasHapus
  2. Komentar di sini sudah lebih dari cukup dibandingkan sekedar like, kok.
    Thanks for your reading and comment, ruuls!
    Kutunggu tulisanmu yang minggu ini :))

    BalasHapus
  3. It is okay vem.

    Tak ada pedang tajam tanpa tempaan panasnya api dan kerasnya logam.
    Tak ada kupu-kupu tanpa perjuangan si kepompong.
    Tak akan diri kita yang sekarang tanpa kerasnya cerita dan kejadian masa lalu.

    Semangat pembelajar!!!!

    BalasHapus
  4. Choiri Khumaidah Fikriyah6 September 2017 16.46

    Tulisan ini...seperti mengaktivkan kembali gen 'kesadaran hidup'saya yg mengalami hibernasi panjang. Nice writing vem!

    BalasHapus
  5. Thanks teman-teman. Selamat menginspirasi!

    BalasHapus
  6. Aaak kya kya baru sempet baca tulisannya (setelah melihat yang lain antusias dengan tulisan yang ini akhirnya ikut penasaran juga😂)..

    Tetap semangat Vem, terima kasih telah menulis dengan jujur, menulis dengan hati, sesuatu yang sampai sekarang masih sukar untuk kulakukan karena malu bila ada orang lain "membaca" kisahku wkwk✌

    BalasHapus
  7. Thanks ria & voo..
    Waiting for your next story guys.
    Selamat berjuang melawan tantangan masing2!

    BalasHapus

Subscribe