Cerita Sendai: Kedatangan

Oktober 13, 2017


Fase baru telah dimulai. Hari demi hari akan saya lalui di tempat baru yang terletak ribuan kilometer dari kampung halaman, dengan budaya, atmosfer dan pola kerja yang jauh berbeda dari biasanya. Saya terjadwal meninggalkan Indonesia dan kota Ngawi tercinta menuju Narita Airport Jepang pada 26 September dan sampai di Jepang pada 27 September 2017 melalui penerbangan Bandara Juanda-Ngurah Rai-Narita dengan perantara maskapai Nasional kebanggan Indonesia (ah, nama maskapai tak perlu disebutkan kan?). Menempuh perjalanan sekitar 8 jam dari Bandara Ngurah Rai menuju Narita Airport menjadi pengalaman ke luar negeri pertama kali dengan waktu tempuh selama itu, di pesawat yang jauh lebih besar dibanding penerbangan lokal, dan tanpa ditemani seorangpun layaknya bujang perantau ngenes.

Menjelang keberangkatan

Saya yang dari desa ini tak pernah menyangka akan mengalami pengalaman ini. Saya merasa proses begitu cepat dan tak terasa waktu telah membawa saya melangkah sejauh ini. Dalam saat-saat seperti ini, saya benar-benar merasa tak memiliki kuasa apapun untuk mengatur takdir diri saya sendiri. Upaya-upaya yang telah dilakukan selama ini, rasa-rasanya hanyalah serpihan debu yang tak banyak mempengaruhi hidup kita. Ya, saya merasa ini semua benar-benar pemberian dari Allah.

Waktu cepat saja berlalu. Hingga saat saya tulis tulisan ini saya telah benar-benar ada di kota Sendai. Salah satu ibukota prefecture di Jepang, Miyagi prefecture. Pasti sebagian besar dari anda tidak mengetahuinya, bukan? Seperti saat beberapa bulan yang lalu sama sekali saya belum pernah mendengar Kata Sendai, Miyagi ataupun Tohoku (kaya nya emang karena saya yang kuper). Yang saya tahu hanya Tokyo dan beberapa kota lainnya yang banyak disebut di buku sejarah, video di Youtube dan beberapa acara jalan-jalan di TV, termasuk Hiroshima dan Nagasaki yang jika anda pernah SMP pasti tahu itu. Eh, tapi bagi kalian yang update info bencana internasional pasti tahu kota ini. Kalau belum tahu coba search aja.

Kota Sendai, kota yang juga menjadi saksi sejarah salah satu bencana terbesar di Jepang

Seperti layaknya orang desa yang baru pertama kali ke kota. Saya beberapa kali harus kebingungan. Maklum, yang namanya pengalaman pertama, pasti udik. Tapi bagaimanapun caranya, saya harus bisa sampai di Kota Sendai, dengan hanya bermodalkan pengetahuan bahasa inggris dan 0.1% pengetahuan bahasa Jepang (udah kaya perantauan beneran). Kebingungan berawal saat di Bandara Ngurah Rai, dimana saya merasa satu-satunya orang pribumi yang wara-wiri di Terminal Keberangkatan Internasional Ngurah Rai. Tapi untung saja, petugas disini masih menggunakan bahasa Indonesia, walau dengan logat bali yang sangat kental yang kadang kita juga ga paham. Haha (jadi inget logat temen kuliah saya yang dari bali, Denny). Tapi setidaknya ini masih di Indonesia, walau suasananya udah kaya di luar negeri.

Lama transit di Denpasar terhitung cukup lama.  Kurang lebih 6 jam-an, dari pukul setengah 7 hingga pukul setengah 1 malam. Nah ngapain aja tuh? Ditengah gerombolan bule dan kafe-kafe ala eropa yang mengisi hampir seluas space bebas terminal internasional ngurah rai, saya coba mencari tempat yang lebih ramah lingkungan dimana saya bisa duduk manis dan menikmatl bekal santap malam dari ibu. Akhirnya saya nemu tempat yang lumayan pewe untuk menunggu, yakni ruang bongkar koper. Sayapun menunggu dengan sabar dengan selingan nonton film di laptop. Alhamdulillah, 6 jam telah terlewati, dan waktu sudah menunjukkan tengah malam, mengharuskan saya untuk beranjak dan check-in. Selamat tinggal Bandara Ngurah rai dan Indonesia!

Setelah masuk pesawat, "ternyata gede juga ya". Dan lagi-lagi saya mendapatkan kursi dekat jendela, setelah pada penerbangan sebelumnya juga mendapatkan kesempatan yang sama. Padahal saya tak sempat memilih tempat duduk ketika check-in. Tapi itu tak terlalu penting, yang penting saya bisa istirahat untuk menyiapkan energi untuk pertempuran besok, mengarungi negeri orang pertama kali dan tanpa guide, dan tentunya bisa selamat sampai tujuan. Aamin.

Setelah sekitar 8 jam-an perjalanan ditambah rasa pegel yang luar biasa, akibat salah posisi leher saat tidur di pesawat, but alhamdulillah, finally, I have arrived in Japan! Eits, tapi, tantangan yang sesungguhnya baru dimulai. Kamu telah berada di negeri orang, dan kamu datang sendirian, dengan membawa barang bawaan yang tak sedikit. Berusahalah jauh lebih keras nak!

Nampaknya tantangan benar-benar akan semakin serius. Di bandara ngurah rai mah kita masih bisa membaca petunjuk dalam bahasa inggris dan segera bertanya menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris kepada petugas jika kebingungan, Di Narita, Jepang, jangan berharap semua petugas dapat memahami bahasa inggris anda. Hanya sebagian saja orang Jepang yang dapat berbahasa asing, khususnya bahasa inggris. Terus gimana? Keep calm and stay cool, tenang, tak serumit yang dibayangkan kok. Di Tokyo, kita masih bisa mendapati beberapa petugas yang cukup faham bahasa inggris, dengan sedikit atraksi body languange yang ternyata jauh lebih efektif dibanding mencoba berbicara bahasa Jepang dengan modal pas-pasan. Alhamdulillah, akhirnya saya sampai dengan selamat dan kartu alien residence telah didapatkan langsung (gak pake lama), sebelum melanjutkan perjalanan darat dari Tokyo menuju Sendai. Fyi, kartu alien residence adalah kartu yang harus kita dapatkan untuk dapat tinggal di Jepang, sebagai warga asing.

Bandara Internasional Ngurah Rai

Oh ya, sesaat sebelum landing saya dapati beberapa orang Indonesia (yang ternyata juga seorang MEXT student dan satunya lagi sedang akan menjalani khursus kerja) dalam pesawat yang sama. Saya perhatikan dan akhirnya saya sapa tuk sekedar berkenalan. Sempat ngobrol, namun akhirnya kami berpisah dan kembali pada kesibukan masing-masing dalam mengisi beberapa formulir imigrasi.

Tantangan belum berakhir, saya harus melanjutkan perjalanan darat sejauh 350an kilometer menuju Sendai. Ada tiga pilihan moda transportasi, yaitu naik pesawat, bis, atau shinkansen/ kereta cepat. Kali ini saya harus merogok kocek yang lumayan untuk melanjutkan perjalanan ke Sendai. Dua pilihan pertama, naik pesawat dan bis telah saya eliminasi jauh-jauh hari yang lalu saat saya putuskan saat masih di rumah. Dan telah saya putuskan untuk naik Shinkansen, walaupun dengan tarif 11 ribuan sekali jalan. Kalau ingin tahu berapa nominalnya dalam rupiah, tinggal kalikan saja dengan nilai tukar 120 an yen. (Hitung sendiri, haha) Tapi menurut saya uang segitu cukup terbayarkan dan sebanding dengan fasilitas yang kita dapat, dan yang paling utama adalah efisiensi waktu. Dibanding naik naik Bis yang murah tapi perjalanan bisa sampai 6 jaman dari tokyo, dan pesawat yang harganya hampir dua kali lipatnya, walaupun waktu tempuhnya cukup singkat. Disitu, kalian harus memilihnya dengan bijak dan penuh pertimbangan, dan tentunya harus melihat isi dompet. Haha.

Moda bis dari Narita Airport menuju Tokyo Station

Nampaknya saya sangat beruntung mendapatkan saran dari senpai untuk mengirimkan koper menggunakan jasa paket di Narita Airport, instead of membawanya sendiri. Saya (hanya) perlu membayar sekitar 1700an yen untuk mengirimkan satu koper besar dan sampai segera esok harinya. Saya bersyukur tak perlu menggeret koper besar dan berjalan cukup jauh ditengah ribuan orang yang lalu lalang di stasiun untuk mencari jalur kereta shinkansen dengan hanya memanfaatkan keyword “Sendai, Miyagi, Tohoku atau Taihaku” untuk dapat sampai pada jalur yang benar. Ternyata cukup melelahkan, saya tak dapat membayangkan jika harus membawa koper itu kesana kemari, belum jika saat saya harus membawa dan mengangkatnya setelah sampai di sendai, kemudian menemui tutor pendamping ke kampus, ke kantor broker apartment untuk mendatangani kontrak, dan menuju ke apartemen. Pasti jempor dan bisa jadi saya akan meninggalkannya di saat saya benar-benar tak kuat membawa kotak ajaib seberat 34 kilogram tersebut.

Shinkansen
Tiket Shinkansen

Hingga akhirnya saya menemukan jalur shinkansen Taihaku line setelah merasa percaya diri menemukannya sendiri tanpa banyak bertanya kepada petugas, alhasil saya beberapa kali harus bolak balik salah jalan di Tokyo Station. Tapi menyenangkan kok, asal jangan sambil bawa koper saja, haha. Saat itu, saya benar-benar baru melihat langsung kereta dengan ukuran sebesar itu. dengan kecepatan sangat tinggi sekitar 300an kilometer per jam (duh ndeso rek). Gesekan antara roda dengan rel pun tak terasa sama sekali, amat halus dan minim sekali getaran di dalam gerbong. Namun rasa antusiasme untuk menikmati sepanjang perjalanan dikalahkan oleh rasa lelah dan kantuk yang ternyata jauh lebih kuat. Hampir sebagian besar perjalanan selama 1.5 jam itu saya gunakan untuk beristirahat sejenak. Dan 1.5 jam berlalu sangat cepat. Sampailah saya di stasiun Sendai.
Stasiun Sendai

Salah satu tampak suasana Kota Sendai

Sesampainya di Stasiun Sendai, senangnya, ternyata ada beberapa kawan-kawan yang telah menjemput dan akan menemani saya menuju daerah kampus saya, Tohoku University.
Namun...  ternyata itu hanyalah fatamorgana belaka. Saya nampaknya harus menuntaskan kesendirian saya untuk sampai ke Stasiun Subway Kawauchi, untuk menemui tutor, yang memang ditugasi untuk menemani saya selama setahun pertama di Sendai. Dia merupakan mahasiswa asli Jepang dan satu lab dengan saya.  Oke. Saya harus menuju jalur subway ke arah Kawauchi dan membeli tiket. Saya masih saja tak tahu harus kemana dan bagaimana. Yang saya lakukan untuk mencari tahu adalah melihat papan neon informasi, browsing menggunakan internet gratis stasiun dan mengamati bagaimana cara orang bisa masuk gate. Dengan menggunakan metode itu akhirnya saya dapat membeli tiket pada mesin yang lebih mirip seperti ATM, dengan opsi Bahasa Inggris didalamnya. Alhamdulillah. Kemudian saya segera mencari Jalur kereta yang menuju Kawauchi hanya bermodal melihat papan petunjuk arah Bahasa Inggris.

Oh ya, bagi teman-teman yang ingin bisa langsung mendapatkan koneksi internet, sebenarnya bisa langsung beli paketan internet di bandara (tanpa harus pake kartu kredit dlsb), untuk mengantisipasi kebingungan ketika ga ada koneksi dan kesulitan ngehubungin siapapun, seperti apa yang saya alami. Haha.

Tak lama berselang, saya sampai di stasiun Kawauchi. Saya dan tutor sebelumnya janjian untuk bertemu di Perpustakaan kampus, dan saya segera menuju tempat tersebut, dengan hanya bermodal Google Map yang lagi-lagi memanfaatkan Wifi Stasiun. Dengan keterbatasan koneksi dan komunikasi dengan tutor yang hanya dengan E-mail, sayapun segera menuju perpustakaan tanpa mendapat konfirmasi lagi dari Tutor. Sekitar 45 menit saya menunggu tanpa ada kepastian. Akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke stasiun, dimana saya bisa mendapatkan koneksi untuk lagi-lagi mencoba berkomunikasi dengannya. Setelah menunggu hampir sejam. Dia datang di tempat yang memang sebelumnya saya foto agar dapat lebih mudah bertemu, dan saya pastikan dia adalah Hirayama-san, sang tutor yang akan membantu saya beberapa waktu kedepan (foto terlampir). Akhirnya setelah beberapa jam sendiri sebagai orang asing tanpa ada petunjuk pasti, kali ini datanglah penyelamat yang akan mengantarkan saya menuju Apartemen dimana saya akan tinggal. Oh ya, btw, saat kedatangan pertama ini, saya tidak mendapatkan jatah dormitory, alhasil saya harus tinggal di apartemen dengan tarif 33 ribu yen sebulan, belum ditambah biaya deposit di awal dan biaya broker agen property, dengan total hampir sekitar 120an ribu yen (yang di bayar diawal 75an ribu yen). Dan ditambah lagi, kamar yang saya dapat kosongan mlompong sama sekali, jadi saya harus adakan isi kamar by myself. Daaan, saya harus pakai uang pribadi untuk membayar itu semua (karena beasiswa baru akan cair sekitar akhir november). Haha, siap-siap tirakat.
Belum pula,  di hari itu saya belum kepikiran apakah ada alas tidur untuk malam pertama saya di apartemen, sedangkan suhu udara di Sendai di saat-saat seperti ini rata-rata 12 derajat celcius di malam hari.

Bersambung...

Hachiman-Sendai, 27 September 2017

If you want to know more, please kindly watch and subscribe my playlist videos on youtube. Thank you!

The Journey of Sendai:
https://youtu.be/ejU9m3jWiq4?list=PLTQDrRz7kYsY0AXnq5Pky7Y5EM_rStatG



Saya dan Hirayama-san, tutor saya selama di sini

You Might Also Like

6 komentar

  1. sampai di Sendai kok iteman mas haha. Di sendai cuma setaun? Tahun ke 2 beda univ ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama aja kok gus.
      Disini insyaAllah 2 tahun + 3 tahun.

      Hapus
    2. numpang ikut comment, bukan vempinya iteman, orang sejagatnya yang putihan wkwkwk

      Hapus
  2. Salam kenal Mas Vempi dari warga Semarang, semoga sukses dan on time menempuh study-nya. Ijin bertanya ketika sampai di Narita memakai provider apa untuk pengiriman koper dan apakah koper langsung sampai di Apato atau di station Sendai. Matur suwun, Rio.

    BalasHapus

Subscribe