Cerita Sendai: "Keluarga" Baru

Oktober 20, 2017

“Ada yang mendekat agar punya teman cerita. Ada yang bercerita lalu dekat. Ada pula yang berusaha dekat hanya untuk menjadikanmu bahan cerita” -anonim
Kebersamaan Keluarga PPI S (Persatuan Pelajar Indonesia di Sendai)

Setelah merasakan perjalanan menuju Sendai yang cukup menantang, saya mendapatkan kemudahan-kemudahan selama masa-masa awal kedatangan di Sendai. Memang salah satu ayat yang mahsyur kita dengar: “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 5) benar-benar mutlak tak bisa kita ingkari kebenarannya (ya iyalah -_-).

Setelah merasakan liku-liku yang panjang dan harus dilalui dengan peluh dan keringat (halah). Akhirnya saya ditunjukkan oleh Allah satu kemudahan yang luar biasa saat kali pertama tinggal di Apartemen. Kebetulan sekali, ternyata di apartemen tempat saya tinggal juga terdapat mahasiswa Indonesia, mas irwan namanya. Se-tahunan terakhir ini beliau telah tinggal bersama istri dan anaknya, setelah setahun sebelumnya tinggal bersama kawan mahasiswa Indonesia lainnya. Kabar itu saya dapatkan setelah saya sempat berkomunikasi dengan senpai satu lab yang telah menuntaskan studinya setahun di sini dan akan kembali ke Indonesia sehari setelah kedatangan saya di Sendai. Beliau menyampaikan bahwa di apartemen tempat saya akan tinggal, ada juga mahasiswa Indonesia yang tengah menempuh pendidikan doktoral tinggal situ. Seketika kabar itu menjadi oase di tengah padang pasir yang tandus setelah melihat dormitory di ujung jalan yang lagi-lagi ternyata hanya fatamorgana saja. Setelah sempat mengira akan tinggal sebatang kara di apartemen (maaf agak alay), sedangkan kawan-kawan mahasiswa baru yang lain tinggal di dormitory (asrama kampus), alhamdulillah akhirnya saya mendapatkan kawan/saudara se-perantauan dari Bumi Indonesia tercinta yang tinggal satu apartemen! Bagi saya itu sangat menggembirakan dan cukup memberikan jaminan bagi saya bahwa, it's gonna be OK, vem! Dan benar saja, lebih dari itu, beliau beserta keluarganya-lah yang benar-benar “menyelamatkan” hari-hari pertama saya di Jepang.

Sempat terancam tak bisa langsung tidur di apartemen karena tak ada kasur, dan sempat berencana numpang di kakak angkatan sesama alumni UGM yang tinggal tidak jauh dari apartemen saya, akhirnya kamar apartemen sudah dapat saya gunakan istirahat malam pertama di Sendai, setelah Mas Irwan memberikan kasur spring-bed dua lapis secara cuma-cuma lengkap beserta pinjaman selimut yang untuk sementara bisa saya gunakan. Itu saja belum cukup, setelah Mas Irwan membantu saya untuk mengangkat dua kasur yang cukup berat dari lantai-2 ke lantai-6 ruang kamar saya melalui tangga tanpa menggunakan elevator, (karena ga muat) beliau kemudian mengajak saya untuk istirahat sejenak untuk menyantap makan malam di kamar beliau. Kurang baik apalagi, saat saya memang tak punya makanan apapun kecuali roti yang sudah saya siapkan dari rumah saat keadaan emergency tak ada makanan, beliau menyelamatkan malam pertama saya di jepang dengan bantuan dan keramahan yang luar biasa. Akhirnya sayapun menyantap makan malam hasil masakan istri beliau yang rasanya luar biasa lezat (serius), apalagi setelah terakhir makan nasi sekitar 24 jam sebelumnya saat berada di Denpasar, ditambah lagi memuncaknya rasa capek, jetlag dan nyaris “terlantar” saat malam pertama di negeri orang. Di malam dingin yang seketika menjadi hangat karena obrolan kami akan banyak hal, hingga tak terasa hari telah menjelang larut malam, sayapun pamit dan bersiap untuk istirahat. Namun belum usai sampai disitu, saya masih dibawakan nasi dan lauk untuk makan besok. Hmmm. Saya harus bersyukur, dan tentunya tak akan pernah lupa akan kebaikan beliau di saat kedatangan saya pertama kali di kota Sendai, Jepang.

Perjalanan saya setelah saya sampai di Sendai, juga ditemani Hirayama-san -tutor saya, hingga menuju apartemen. Dan jika saja malam itu belum bisa bertemu mas Irwan, kemungkinan saya akan numpang di apartemen senpai yang tak jauh dari apartemen saya. Namun lagi-lagi saya harus tetap dalam koneksi internet karena saya hanya mengandalkan Wi-Fi gratis yang kebetulan tersedia di lounge apartemen, pun untuk mengakses-nya saya harus masuk ruangan laundry yang beberapa kali harus diperhatikan oleh mereka yang keluar masuk ruangan laundry. Lepas dari itu semua, saya bersyukur telah sampai dengan selamat dan bisa mengabarkan kepada keluarga bahwa saya telah sampai dan bisa beristirahat dengan nyaman di malam pertama di Jepang.

Sejak saat pertama saya tiba di Sendai, saya tak henti-hentinya dipertemukan dengan banyak orang-orang baik. Mereka adalah mahasiswa dan kakak-kakak senpai yang telah lebih dulu tinggal di sini, yang sebelumnya saya belum mengenal mereka secara langsung. Ada kakak angkatan dari kampus yang sudah kenal sebelumnya? Tidak ada. Saya baru mengenal mereka saat masih di Indonesia beberapa bulan sebelum berangkat, setelah sempat masuk grup-grup Facebook dan ngobrol lewat Facebook messenger dalam grup Persatuan Pelajar Indonesia di Sendai dan grup-grup turunannya yang jumlahnya bejibun, dari grup Kagama Tohoku (duh rasis), grup mahasiswa Indonesia yang satu fakultas, hingga grup Keluarga Muslim Indonesia di Sendai, dan tentunya ada beberapa lagi lainnya yang saya tak bisa sebutkan satu-satu. Tapi ya baru sekedar tahu dan berkomunukasi via media sosial. Salah satu diantaranya adalah mas Fajar yang saya hubungi pertama kali saat akan mendaftar program IELP sekitar setahunan yang lalu, hingga beberapa senpai yang sama-sama program IELP yang juga baru saya kenal via Facebook. Simpel saja untuk membuat simpul silaturahim tersebut, saat masih di Indonesia, saya coba menemukan nama mereka di Facebook setelah browsing nama-nama mahasiswa yang satu lab dengan saya dan tiba-tiba nemu nama Indonesia. Atau kepo melalui website program IELP (program saya saat ini) dan kemudian nemu testimoni dan beberapa diantaranya adalah mahasiswa Indonesia, lalu search nama lengkap mereka di Facebook dan taraaat, munculah akun mereka, kemudian mulailah saya tanya2 ke beliaunya. Cara itu saya pakai termasuk saat saya pertama kali menghubungi Mas Fajar, mahasiswa Doctoral se-lab dengan saya yang telah masuk duluan dua tahun yang lalu, untuk menanyakan bagaimana proses pendaftaran dan pengalaman bagaimana dulu beliau bisa lolos seleksi sebagai penerima beasiswa MEXT. Dari pertemuan-pertemuan di dunia maya tersebut, saya diantarkan oleh Allah untuk benar-benar bertemu dengan mereka secara nyata di awal oktober ini. Dari awal kedatangan hingga tulisan ini saya tulis, hampir semua orang yang sebelumnya hanya saya temui di Facebook benar-benar telah saya temui secara langsung. Pas ketemu ya kaya udah kenal lama aja. Tak ada kecanggungan sama sekali, karena jika kamu berasal dari tempat dimana aku berasal, Indonesia, tak akan ada rasa sungkan atau malu untuk meminta bantuan dan memberi bantuan saudara yang sedang membutuhkan. Semua seperti saudara sendiri. Dan dalam hal ini, sayalah yang terbantu sangat banyak oleh keberadaan mereka di sini. Mulai dari mas Irwan yang memberi saya kasur dan makanan hingga dua hari awal saya di sini, hingga mas Fajar dan istri yang memberikan saya banyak kemudahan untuk mendapatkan barang-barang lungsuran, seperti sepeda, rice cooker, dan peralatan-peralatan penting lainnya yang saya butuhkan untuk mengisi apartemen yang kondisi inisial-nya nol, tak ada isi sama sekali, bahkan almari untuk menaruh pakaian-pun tak ada, dan banyak lagi lainnya yang ga bisa saya sebut satu-satu. Hingga saat ini, saya telah cukup steady untuk sekedar memasak makanan sehari-sehari dengan alat-alat yang telah saya dapatkan yang sebagian besar for free alias gratis, dan sebagian lainnya saya tebus dengan harga yang sangat murah. Saya tak bisa membayangkan jika, tak ada yang membantu saya untuk sekedar memberi info ataupun menghubungkan ke beberapa orang yang memiliki barang yang sudah tak terpakai. Pasti uang sisa yang saya bawa dari Indonesia yang jumlahnya tak seberapa sudah ludes dua minggu sejak saya disini, untuk membeli perlengkapan-perlengkapan dasar seperti kompor, rice cooker dlsb.


Saat masih di Indonesia, saya sempat berpikir bahwa nanti setelah menjalani perkuliahan di Jepang saya tak akan bisa lagi mendapati pengalaman “berkawan” seperti di Indonesia, atau saat jaman Sekolah khususnya kuliah, mulai dari budaya, pemikiran dan cara memaknai pertemanan itu sendiri. Agak susah dijelasin sih, intinya saya sempat berpikir bahwa di Jepang nanti saya gak akan bisa dapet teman main seperti saat dulu. Karena yang ada adalah temen-temen asli jepang atau bahkan bule-bule yang gabisa “diperlakukan” seperti perlakuan sesama temen saat di Indonesia. Tapi, realitanya, setelah saya tinggal beberapa hari di sini, tidak seluruhnya akan menjadi seperti itu. Ujung-ujungnya disini bakal sangat sering bertemu kawan-kawan dari Indonesia, kok, haha, baik saat acara PPI maupun di perkuliahan. Saat kuliah apalagi, sebagian besar kelas mesti mahasiswa Indonesia paling banyak. Misal anggota kelas ada sepuluh, hampir 5-6 orang adalah adalah dari Indonesia. Jadi hampir tiap hari ketemu mereka, karena dari jumlahnya, memang, menurut data, mahasiswa Indonesia paling banyak setelah china, dan juga tersebar di banyak lab. Jadi secuil kekhawatiran tadi akhirnya tidak terjadi. Walaupun sebenarnya dengan berteman dengan lingkungan Internasional adalah salah satu hal yang saya ingin rasakan disini, tapi dengan bertemu kawan dari Indonesia itu udah kaya berasa pulang dan kembali memulai gaya “Indonesianan” atau bahkan “jowonan” kembali (jadi pengen bikin channel VOA Jepang kaya yang di JTV”, haha). Sampai beberapa kali saya sempat merasa bahwa “saya masih di Indonesia”.



Di waktu-waktu awal sejak kedatangan saya di sini memang cukup mengesankan bagi saya. Disamping proses adaptasi akademik dan perkuliahan, saya harus menyeimbangkan dengan proses adaptasi untuk kehidupan sosial, budaya dan upaya untuk bertahan hidup dan mandiri. Terkait untuk bertahan hidup dan mencukupi kebutuhan dasar, misal: makan, tak sama dengan di Indonesia, pastinya, di sini serba terbatas. Di Jogja atau di Bandung, kita bisa dengan mudahnya menemukan burjo yang buka 24 jam dan warteg yang buka bahkan saat sahur, disini menurut saya kita harus lebih banyak masak sendiri, karena hampir sebagian besar makanan di sini baik mentah maupun matang, tak terjamin ke-halalannya. Bahkan bisa saya katakan sebagian besar tidak halal (karena banyak hal, seperti pada proses penyembelihannya, mengandung minyak babi dlsb). Dan saya tak mau mengambil resiko. Maka dari itu saya berencana untuk selalu masak dan membawa bekal makan siang ke kampus. Dengan demikian alat-alat yang telah saya dapatkan selama ini dari kawan-kawan sangat signifikan bagi saya. Pun juga bantuan-bantuan yang tak terhitung berupa petunjuk-petunjuk tempat belanja halal dan tempat beli barang bekas atau barang murah. Saya berhutang banyak kepada mereka. Keberadaan mereka sebagai keluarga baru di sini menjadi sumber kenyamanaan, hingga saya tak punya alasan untuk tidak kerasan di sini (lepas dari urusan research, haha). Semoga pertalian kekeluargaan Mahasiswa Indonesia di Sendai senantiasa terjaga hingga kita dapat bertahan di negeri orang dan mengukir capaian yang membanggakan sebagaimana diniatkan diawal untuk belajar dan menuntut ilmu.

Karena hari sudah menjelang tengah malam, mungkin saya akhiri dulu tulisan ini. Kapan-kapan saya lanjutkan. Mmm...sepertinya tulisan tentang bagaimana hidup sebagai seorang muslim di negeri “non-muslim” cukup menarik untuk topik berikutnya.

To be continued…

Hachiman-Sendai, 15 Oktober 2017

Tengah malam kala suhu 12° diluar

You Might Also Like

1 komentar

Subscribe