Keseharian di Jepang: Salju pertama

Januari 22, 2018

Pertama kali harus beradaptasi dengan iklim di negeri empat musim adalah pengalaman yang cukup menarik sekaligus menantang, apalagi saya yang selama hidup hanya mengalami tinggal di negeri Indonesia, yang notabene negara dengan iklim tropis dengan hanya dua musim dimana kelembaban dan suhu cukup tinggi (red: hangat). Waktu kedatangan saya di akhir bulan september yang bertepatan dengan musim gugur (yang berarti 2-3 bulan menjelang musim salju) membuat saya harus bersiap beradaptasi dengan suhu yang cukup ekstrim -menurut standar kulit tropis. Di awal kedatangan, saya hanya bisa membayangkan betapa dinginnya nanti saat musim salju, ditambah dengan cerita senpai-senpai yang cukup terdramatisir. Ekspektasi yang terbentuk sejak awal membuat saya berusaha bersiap sebelum memasuki musim salju dengan menyiapkan senjata, yang diantaranya dapat didapatkan berupa second-hand seperti jaket super tebal, sal, dan beberapa set pakaian hangat dan tak ketinggalan sepatu anti air yang memungkinkan untuk bisa dipakai ketika salju. Di akhir bulan november semua perkakas survival salju telah disiapkan setelah berburu barang-barang perang bersama Bapak-bapak yang telaten dan sabar untuk saling teman-menemani dan bantu-membantu mendapatkan barang murah tapi kualitas oke. 

Salah satu perburuan yang paling berkesan adalah ketika kami menghabiskan waktu seharian jauh-jauh ke Izumi book off (salah satu outlet barang bekas yang termashur di Sendai) untuk mencari beberapa jaket dan sepatu bekas yang murah meriah. Hingga akhirnya kami memborong beberapa jaket dan sepatu. Sedangkan untuk pakaian baru, di waktu lain kita bisa mendapatkannya di UNIQLO (sebut merk gapapa ya), yakni fashion store yang harganya cukup terjangkau dengan model dan kualitas yang tak kalah dengan merk kenamaan lainnya. Bahkan saking populer-nya UNIQLO, sangat sering kita temui jaket kembaran yang bahkan hingga jadi alasan beberapa kawan untuk tidak membeli pakaian disana, agar nggak tiba-tiba nemu kembaran di jalan.

Seusai mabit tohouku di masjid Sendai

Setelah memasuki bulan desember, suhu mulai drop turun. Hingga kebutuhan untuk bertahan bertambah, tak lagi hanya pakaian. Kita tak hanya bisa bertahan dan beradaptasi menggunakan pakaian hangat, namun ternyata mitigasi-pun juga dibutuhkan. Yaitu me-mitigasi lingkungan dimana kita tinggal sehari-hari, agar tak membuat kita kaku kedinginan di dalamnya, ya tak lain dan tak bukan adalah kamar kos-kosan (red: apato/ apartemen). Di akhir bulan November, saya sudah mulai rutin menggunakan electric heater yang beberapa waktu sebelumnya saya beli dari orang Afrika yang info penjualannya saya dapatkan di Flea Market, grup jual beli barang bekas Facebook khususnya untuk para foreign student di Sendai. Namun ternyata, heater yang saya beli 1500 yen tersebut, tak cukup bisa menghangatkan ruangan kamar yang sebenarnya nggak luas-luas banget. Instead, heater tersebut hanya bisa menghangatkan badan anda (hanya badan lho) jika anda duduk di sebelahnya dengan radius tak lebih dari 50 cm, itupun hanya satu sisi badan saja yang terasa. Nah, kalau anda beranjak sedikit saja, dijamin anda akan merasakan dinginnya suhu sekitar 6° didalam kamar anda, walaupun suhu tersebut terhitung masih normal untuk musim dingin.


Alhasil, mau tidak mau saya harus membeli atau mencari heater yang lebih powerful, hingga bisa menghangatkan ruangan. Agar ketika pulang dari kampus di malam hari, saya masih bisa menikmati istirahat di kamar dengan tenang dan nyaman, nggak kedinginan atau bahkan bisa jadi sakit-sakitan atau sekedar terjangkit Japanese flu. Awalnya saya masih berusaha mencari bekas. Namun setelah pergi ke-toko dan hasilnya nihil karena barang yang saya inginkan sudah sold old dan setelah mencari info kesana kemari ke teman-teman Indonesia dan tak membuahkan hasil, akhirnya mau tak mau saya harus menyisakan uang 9300 yen untuk membeli oil fan heater baru (hitung-hitung juga kalau beli baru bisa lebih worth it karena bakal dipakai insyaAllah hingga 5 tahunan ke depan). Jenis heater tersebut yang lebih sering dipakai untuk musim dingin, dibandingkan dengan electric heater yang hanya memanfaatkan energi listrik tapi panasnya tak bisa tersalurkan dengan baik. Sedangkan oil fan heater, energi panasnya dihasilkan dari pembakaran kerosin yang dihembuskan fan (kipas) untuk merambatkan panas ke luar alat. Dengan bantuan Bu Ratri untuk membelinya di Amazon menggunakan prime card, akhirnya saya mendapatkan heater tersebut dan saya lakukan trial pertama setelah membeli minyak kerosin (sebut saja minyak gas: padahal di Indonesia sudah nggak ada haha).

Pengalaman-pengalaman saat musim dingin ini, bisa dibilang cukup unik bagi saya pribadi yang baru pertama kali mengalami musim dingin, fyi dengan suhu terendah sampai saat ini -5° (dan akan lebih dingin lagi setelah tulisan ini di-publish). Namun, alhamdulillah, hingga saat ini tubuh masih bisa beradaptasi dan survive. Walaupun sesekali merasakan hawa yang sangat dingin hingga ujung-ujung jari tangan mati rasa, perih, dan totally freezing, bahkan pernah saat awal-awal hingga mengering dan luka. Tapi dampak-dampak tersebut masih bisa diatasi dan dikurangi efeknya salah satunya dengan menggunakan sarung tangan untuk menghindari kulit tangan kering dan membeku, menutup permukaan kulit dengan pakaian dan jaket tebal bahkan baju dalam yang berlapis-lapis (penggunaan longjohn juga sangat-sangat efektif), kaos kaki, tutup kepala (bisa dari jaket juga) khususnya saat bersepeda untuk menghindari dampak angin, dan alat-alat “makeup” wajah berupa lotion pelembab dan lip-balm untuk menghindari bibir kering dan pecah-pecah. Semua upaya tersebut selama ini saya terapkan setiap harinya. Jika saya tak kenakan sarung tangan saja misalnya, pasti tangan sudah membeku (beneran membeku sampe tangan mengeras) sesampainya di apato. Jadi tantangan terberat adalah saat melupakan salah satu dari alat-alat wajib tersebut ketika berangkat ke kampus.

Setelah berjalan hingga saat ini, di sisi lain, ternyata pengalaman musim dingin saya yang pertama ini tidak sepenuhnya se-ekstrem yang saya ekspektasikan sebelum musim dingin lalu (terlanjur paranoid). Dimana saya membayangkan salju akan turun tiap hari, suhu mencapai minus belasan dan selama berminggu-minggu seluruh daratan akan selalu tertutup salju tebal. Ternyata tidak. Karena salju pada dasarnya adalah hujan, maka pola-nya juga mengikuti pola hujan (baru ngeh akhir-akhir ini). Apabila hujan tidak turun maka salju kemungkinan juga tidak akan turun. Begitupun musim salju saat ini. Karena nampaknya curah hujan tidak terlalu tinggi, jadi turunnya salju sampai saat ini masih bisa dihitung jari, itupun nggak semua hujan jadi salju. Kalau tidak salah, hanya sekitar 4-5 kali turun salju efektif yang hingga menyebabkan akumulasi tumpukan salju di Sendai sampai saat ini. Itupun, khususnya di kota Sendai, Salju yang turun semalaman bisa mencair dalam waktu yang relatif cepat, 2-3 hari, bahkan bisa lebih cepat jikan setelahnya cuaca cerah dan sinar matahari cukup terik. Tak seperti daerah lain (seperti pulau Hokkaido, katanya sih, karena saya sendiri juga belum pernah kesana), disana curah hujan lebih tinggi, lebih dingin (karena letaknya semakin menjauhi khatulistiwa; high latitude), so saljunya lebih banyak, tebal dan mungkin membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mencair.

Semoga di fuyu (musim salju) kali ini cuaca lebih bisa bersahabat dan tidak menjadi halangan saya dan para muslim disini untuk bangun subuh pada tepat waktu, karena pagi-pagi dingin banget, apalagi jika harus keluar kamar yang dan masuk kamar mandi (walaupun akhirnya pakai air hangat sih, haha), serta nggak menghalangi kita untuk pergi ke-masjid Sendai tercinta untuk menjaga jamaah (dengan kemudahan yang telah diberikan dengan adanya jemputan Sato-san, sang imam masjid yang istiqomah melakukan antar jemput para mahasiswa muslim yang tinggal di Dormitory). Dan semoga kita bisa dipertemukan di fuyu tahun depan dalam keadaan lebih baik lagi.
*Oh ya, satu lagi semoga di musim salju tahun ini, bisa main ski, setelah kemarin awal Desember melewatkan kesempatan ski bersama teman-teman PPI.


Hachiman, 22 Januari 2018
10.00 JST
Saat suhu 
-5° di luar.






You Might Also Like

0 komentar

Subscribe