Perjalanan 2017

Januari 04, 2018

Melengkapi momen awal tahun 2018 ini, nampaknya cukup tepat jika saya mengulas balik momen-momen penting dan berkesan selama tahun 2017. Beberapa peristiwa yang terjadi di tahun lalu telah menandai perjalanan saya selama ini, yang secara umum merupakan momen terpenting selama 4 tahunan terakhir ini. Diawali dari beranjak dari kota Jogja, hingga kepindahan saya menuju Jepang untuk melanjutkan studi S-2, merupakan serangkaian titik tolakan yang cukup berkesan dan tentu akan sangat saya ingat. Semua momen terangkai rapi dan teramat bernilai, tak lepas dari pengaturan dari -Nya, sang pengatur setiap detil kehidupan.

Dari Jogja, Bandung, dan Sendai
(Sumber: Gambar 1Gambar 2Gambar 3)

Beberapa momen yang saya tulis di sini merupakan kumpulan dari catatan-catatan kecil di buku yang isinya “gado-gado” -campur, mulai dari catatan kuliah, diskusi, sampai catatan terkait job pekerjaan (tapi yang pasti bukan semacam buku diary ya. Haha). Tapi anyway, dengan hanya membacanya kembali, ternyata catatan-catatan sederhana yang tak cukup rapi tersebut cukup bisa mengingatkan saya akan rentetan peristiwa berbulan-bulan lalu, dan sekaligus memantik nuansa rasa nostalgia yang didukung oleh suasana kamar yang sepi-sendu (halah).

Diawali dari perjalanan akhir 2016 (menjelang 2017) hingga saat ini, coba saya buka kembali (salah satunya) dengan menuliskan rangkaian kronologi singkat ini:

1. Menuntaskan project dosen, dan stay sejenak di Jogja


Setelah wisuda pada bulan agustus 2016, saya memutuskan untuk tetap stay di Jogja dan melanjutkan aktivitas akademik seperti biasanya, membantu dosen menuntaskan project. Keputusan saya tersebut, sudah terencana dibarengi dengan cukup mantapnya keputusan saya untuk melanjutkan studi S-2, instead of mencari kerja tetap di perusahaan BUMN atau swasta, seperti pola lulusan S-1 sipil pada umumnya. Di rentang waktu ini, saya kedapatan tugas untuk menjadi asisten proyek Integrated Water Resources Management (IWRM), dan sehari-hari “ngantor” di lab. Hidro JTSL FT UGM. Bersama kawan-kawan asisten yang lain (sebut saja Faza, Risal, Mita, Lutfan, Mba Rani, Mas Hanggar, Mas Arif, Mas Puji, Mas Rifki, Mba Tyas, Mba Arum, Mba Diput, dan Epang) kami banyak menjalani hari-hari bersama di lab., khususnya di hari-hari menjelang deadline. Dari situlah, kami menjadi lebih paham dan mengenal satu sama lain berkat project. Haha.
Momen wisuda tahun 2016 bersama punggawa asisten Lab. Hidro (dari kiri ke kanan: Mba Rani, Faza, Mba Tyas, Saya, Mas Rifki, Lutfan dan Epang)
Selain itu seperti yang sudah saya tulis panjang lebar di tulisan sebelumnya, waktu-waktu transisi pasca lulus tersebut juga saya gunakan untuk mempersiapkan strategi dan rencana, sekaligus eksekusi untuk mendaftar beasiswa dan kampus luar negeri, khususnya jepang.

2. Perencanaan dan persiapan study abroad

Akhir tahun 2016 menjadi tahun dimana saya telah bulat memutuskan untuk lanjut kuliah S-2 di luar negeri (baca tulisan ini, ini dan ini). Hingga konsekuensinya, saya harus mempersiapkannya dengan baik, dan harus tetap menjaga fokus walau sedang banyak-banyak aktivitas dan pekerjaan saat itu. Persiapan-persiapan yang telah saya lakukan di tahap ini, dapat dilihat pada beberapa tulisan sebelumnya (baca tulisan ini).
Cek list form aplikasi IELP
(sumber: http://www.kankyo.tohoku.ac.jp/ielp/application/images/main.jpg)
Di masa-masa ini adalah lebih pada menyusun pertimbangan, memutuskan, dan menyusun strategi serealistis mungkin untuk menyiapkan studi luar negeri. Modal yang saat itu bisa dibilang amat tidak cukup, membuat saya memutar otak bagaimana bisa mencapai target untuk bisa memenuhi persyaratan dan kesiapan mendaftar studi di luar negeri. Namun singkat cerita, alhamdulillah, Allah telah memudahkan langkah-langkah saya (insyaAllah) dan pastinya turut menunjukkan jalan-jalan mana yang mendesak untuk diambil (karena kurun waktu persiapan yang sangat singkat kala itu). Hingga akhirnya saya telah memilih salah satu program international di Tohoku University, setelah memilah-milah universitas yang baik dan memungkinkan saya untuk mendaftar (dengan modal yang ada di tangan saat itu).

3. Meninggalkan kota Jogja dan mulai bekerja di Kota Kembang, Bandung

Dimomen ini, saya harus berpisah (cie so sweet) dengan kawan-kawan organisasi kampus, teman ngaji, kawan sipil, dan saudara seperjuangan se-kos-an, Kevin, Deddy, Satria, dan orang-orang disekeliling lingkungan kos seperti Mba Yani pemilik burjo terbaik seantero Pogung Raya yang menjual dan memasaka selalu dengan hati, dan segala hal tentang Pogung (daerah tempat tinggal saya di Jogja), mulai dari Masjid Pogung, Burjo, Warung makan, Laundry dan semua-muanya yang ga bisa saya sebut satu persatu. Hahaha. Mereka semua telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan saya selama di Jogja selana kurang lebih 4,5 tahun lamanya.

Bersamaan dengan selesainya kontrak saya sebagai asisten, saya memutuskan untuk mencari pengalaman kerja short term, di salah satu konsultan sipil keairan di Bandung. Setelah melalui  tahap seleksi yang cukup singkat (karena saat itu juga kantor sedang butuh tenaga asisten engineer), saya langsung memulai kerja setelah jeda sekitar 2 minggu sejak wawancara, dengan kontrak selama 6 (enam) bulan, tepatnya di sub bidang Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) PT. Kwarsa Hexagon pada akhir tahun 2016.

Jogja yang selalu berhasil membuat siapapun berkesan pernah tinggal di dalamnya
(sumber: https://factsofindonesia.com/wp-content/uploads/2017/11/Tugu-Yogyakarta.jpg)

Bandung dengan budaya Sunda-nya yang amat kental dan cukup mengesankan bagi saya
(sumber: https://www.dirgantaracarrental.com/wp-content/uploads/2016/12/alun-alun-bandung.jpg)
Mulai saat itu, saya memulai kehidupan baru sebagai karyawan dan meninggalkan hiruk pikuk kota Jogja yang sudah terlanjur melekat berkat kesan selama berkuliah di UGM. Status yang juga sudah tak lagi sama (menjadi berpenghasilan), membuat saya belajar banyak hal baru yang tak bisa didapati selama kuliah, khususnya dalam pola pikir dan manajemen diri secara umum. Budaya dan lingkungan yang cukup berbeda antara Jogja dan Bandung, juga turut membuka wawasan saya, yang secara umum merupakan bagian penting dari pengalaman perjalanan hidup saya di jenjang usia 23 tahun.


4. Menjalani proses seleksi beasiswa dan program master di Tohoku University

Awal tahun 2017 menjadi penanda, awal perjalanan study abroad saya di Tohoku. Seperti yang sudah saya tulis di postingan sebelumnya, saya telah menjalani beberapa rangkaian proses seleksi mulai dari administrasi hingga wawancara skype dengan profesor. Ditengah-tengah kesibukan dalam menyiapkan laporan-laporan pekerjaan yang numpuk, saya harus sediakan waktu untuk mempersiapkan syarat-syarat dan materi seleksi. Beberapa kali harus bolak-balik Kantor pos Margahayu Raya, dan browsing materi di kantor, (beberapa kali jadi kurang fokus ngerjain laporan proyek. hahaha, maafkan saya bu manajer Widya). Hingga akhirnya, rooftop kantor dan Kantor BBWS Citarum Kementerian Pekerjaan Umum menjadi saksi proses seleksi wawancara via skype dan saksi pengumuman penerimaan beasiswa MEXT program master IELP (baca tulisan ini). Momen tersebut menjadi kenangan tersendiri selama awal-awal masa bekerja di konsultan PT. Kwarsa Hexagon.


5. Berburu pengalaman di Kota Kembang

Setelah mendapatkan pengumuman IELP program master di Tohoku, saya segera mengkomunikasikan dengan project manajer saya untuk tidak dapat memperpanjang kontrak setelah bulan Juli 2017 karena oktober 2017 harus berangkat ke Jepang. Hingga suatu ketika saya di panggil oleh Pak man, (beberapa rekan-rekan memanggil pak manajer dengan sebutan tersebut) untuk membicarakan proyeksi dan rencana kerja saya kedepannya di perusahaan. Namun alih-alih saya menyampaikan minat dan keinginan saya untuk diangkat menjadi karyawan tetap, saya harus menyampaikan lebih awal keputusan saya untuk hanya menuntaskan masa kontrak 6 bulan saja, dan tidak memperpanjang kontrak.
Beliau pun menerima dan menghargai keputusan saya, dan saya pun tetap berusaha bekerja profesional selama masa sisa kontrak, dengan semaksimal mungkin memberikan kontribusi yang saya bisa kepada perusahaan.

Kiri atas: Tim PSDA di ruang kerja; Kanan atas: Masih dengan orang yang sama saat traktiran Bu Manajer Proyek
Kiri bawah: Pak Syarif, legend PSDA; Kanan bawah: Punggawa tim futsal Kwarsa

Kiri atas: Bersama Mas Joko saat kunjungan lapangan ke Sidoan Palu, Kanan atas: Ganteng-ganteng serigala Kwarsa di  Rooftop kantor PT. Kwarsa Hexagon
Kiri bawah: Makan bersama di Tengkleng Gajah yang baru buka di Bandung; Kanan bawah: Masih dengan personil PSDA di ruang kerja 

Lepas dari itu semua, saya mendapatkan pengalaman yang luar biasa selama di Kwarsa. Sangat banyak ilmu dan pembelajaran saya dapatkan dari lingkungan kerja saya berada. Peran mereka, partner kerja dan atasan-atasan saya telah membuat saya mengalami transisi pola pikir dari mahasiswa menjadi lebih profesional. Lingkungan kerja saya yang sebagian besar terdiri dari bapak-bapak, bahkan ada juga yang seumuran Bapak saya (64 tahun per-2017 kemarin), yang secara umur dan pengalaman jauh di atas saya, juga membuat saya belajar banyak. Khususnya tentang bagaimana menjadi lebih dewasa dan bijaksana dalam menghadapi masalah, in term of manajemen dan ketenangan diri (mentally). Selama proses itu, wawasan saya juga terbuka lebar terkait dunia pasca kampus dan dunia pekerjaan di negeri Indonesia kita tercinta ini, yang membuat saya semakin yakin atas keputusan saya untuk melanjutkan studi terlebih dahulu, dan berupaya berperanan pada pos yang saya inginkan di dalam sistem, dalam rangka berkontribusi membangun Indonesia.

Terimakasih banyak atas pembelajarannya, Pak Parindra, Mba Widya, Mas Hafiz, Mas Sonni, Pak Syarif, Pak Tatang, Kang Edi, Mas Yuri, Hafid, Mas Joko, dan kawan Sub Bidang PSDA dan Environment lainnya, yang tak bisa saya sebutkan satu persatu.

6. Keep in touch dengan Sensei (Profesor)

Ditengah-tengah kesibukan saya di konsultan, pasca pengumuman diterimanya saya di Tohoku, saya diminta sensei untuk rutin berkomunikasi via skype, updating progress proposal riset. Tiap bulan sekali, saya harus berkomunikasi dengan profesor saya, yang akan menjadi supervisor saya nantinya, sekaligus mengharuskan saya untuk menyiapkan bahan setoran dan update progress yang saya dapat dan lalui. Di masa-masa itu, ketika beberapa project sedang “peak-peak”-nya, saya harus membagi pikiran saya untuk persiapan studi S2. Padahal ketika saya tanyakan pengalaman tersebut ke beberapa kawan yang juga tengah diterima di program yang sama, mereka tak mengalami pengalaman seperti yang saya alami, dimana kebanyakan komunikasi dengan sensei hanya melalui email, itupun hanya terkait urusan teknis dan sedikit tentang riset.  Haha, tapi dari situ saya amat terbantu dan saya berharap agar komunikasi yang dimulai sangat awal ini, bisa membantu saya saat benar-benar sudah memulai studi di Tohoku.

Pada bulan Februari, saya diberi kesempatan untuk bertemu sensei secara langsung pertama kali di Bandung. Saat itu, Tohoku akan mengadakan semacam seminar di kampus ITB, dan sensei saya ambil bagian di acara tersebut. Sayapun menemui beliau, dan terlibat diskusi singkat dengan beliau terkait studi saya. Hingga di saat itu pula, saya baru benar-benar ngeh, kalau program studi saya adalah program (wajib) menerus 5 tahun, S2 lanjut S3. Sebenarnya agak lucu sih, saya-nya. Masak daftar program studi, tapi hal penting semacam itu tak cukup paham. Eits, tapi, beberapa waktu lalu, saya baru tahu juga, ternyata beberapa kawan lain yang seprogram bahkan baru tahu kalau IELP ini adalah program 5 tahun setelah dia berada di Jepang. Ternyata ada yang lebih parah lagi. Hahaha.
Lepas dari itu semua, bulan-bulan persiapan menjelang keberangkatan di kasus saya cukup menantang, dimana saya harus siapkan 5 buah proposal, dan sudah siap dipropose ketika saya menginjakkan kaki di jepang. Dimana di bulan-bulan itu, saya cukup banyak berjibaku dengan paper-paper untuk mendukung originalitas proposal saya. Dan lebih menantangnya lagi, saya harus mempersiapkan proposal saya, untuk program Doktoral sekaligus, istilahnya proposal doktor-able lah. Hehe.
  
7. Kembali ke Kota asal dan tinggal bersama Orang tua

Setelah pamit dari Kwarsa, dan telah menuntaskan kontrak selama enam bulan, saya kembali ke Kota tercinta, Ngawi, untuk tinggal kembali tinggal bersama keluarga, orang tua. Di momen ini, sekaligus saya telah menuntaskan masa perantauan selama sekitar 4,5 di Jogja dan 6 bulan di Bandung, yang notabene telah menyisakan banyak cerita dan pengalaman.
Foto menjelang keberangkatan (dari kiri kanan: Bapak, Ibu, Saya, Mba Eva (Kakak), Nadia (si ponakan tercinta) dan Mas Andik (Kakak Ipar, suami Kakak)

Momen ini sekaligus merupakan 3 bulan terakhir sebelum saya bertolak ke Jepang pada akhir bulan September 2017. Sedari awal memang saya niatkan waktu-waktu ini sepenuhnya untuk ber-quality time bersama orang rumah, dan menikmati suasana kampung sebelum merantau kembali, dalam kurun waktu yang cukup relatif lebih lama, yakni 2 tahun plus 3 tahun di Negeri Sakura. Eits, tapi lagi-lagi, di bulan-bulan ini, saya juga harus menyelipkan waktu untuk bersibuk-sibuk ria dengan proposal riset, karena di waktu-waktu tersebut adalah deadline untuk establish 5 proposal sekaligus presentasi via skype. Hingga akhirnya, di waktu-waktu sebelum akhir 3 bulan, saya memutuskan untuk stay di Jogja lagi selama 3 minggu, untuk memfokuskan diri menyusun proposal, dan sekalian les privat bahasa jepang, agar setidaknya gak nol banget lah ketika sampai di Jepang nanti.

Anyway, di momen ini, saya berusaha gunakan untuk memuaskan diri berkomunikasi dengan ibu bapak khususnya, dan mengangkat topik-topik obrolan yang sebelumnya tak pernah kita bicarakan. Lebih serius dan sedikit memantik rasa (halah), yakni tentang rencana masa depan.

8. Silaturahim ke rumah Kakak Jember dan Banyuwangi

Entah kenapa, pula, saat menjelang waktu akhir-akhir di rumah, saya ingin mengunjungi kakak pertama saya yang ada di Jember. Sekaligus bertemu beberapa kawan, dan syukur-syukur bisa nostalgia ke Banyuwangi. Dan ternyata, kebetulan sekali, ketika sampai di Jember, saya benar-benar diajak kakak sekalian silaturahim ke Banyuwangi, dimana Banyuwangi adalah kota tinggal saya selama kurang lebih 4 tahun, mulai dari kelas 3 SD hingga kelas 1 SMP. Sungguh saat-saat itu adalah momen yang sangat nostalgia-able, karena saya bisa napak tilas tempat tinggal saya di kecamatan Licin dan ketemu "bolo plek" SD dan beberapa guru saya. Intinya, saat itu adalah momen yang sangat saya inginkan sebelum saya berangkat ke Jepang, dan sekaligus keinginan saya sejak lama yang baru terealisasi, walaupun karena ketidak sengajaan.

Dari kiri atas ke kanan bawah berturut-turut: 1) saat berkunjung ke rumah Mba Fiva, 2) bersama Pak Edi Kepala Sekolah SDN 1 Licin yang sudah banyak berjasa bagi saya; 3) foto dengan pose yang sama saat 2017 dan 4) 14 tahun yang lalu;.
5) saat berkunjung ke rumah Pak Yasin (pojok kiri tengah), 6) berkunjung ke rumah Pak Anang (wali kelas saya saat kelas 6 SD, semoga beliau senantiasa diberi kesehatan) (pojok kiri bawah), 7) bersama Eldy dan Yani 8) dan 9) idem foto 3 dan 4 bersama Eldy

Dari kiri atas ke kanan bawah berturut-turut: 1) Makan bersama di Roxy (sorry sebut merk haha) bersama Mas Ois (kakak pertama) Mba Feni (kakak ipar, istri mas Ois), Mas Teguh (kakak Ipar, adik Mba Feni)dan dua ponakan (putra putri Mas Ois) Pandu dan Chika, 2) Selfie bersama Chika dan 3) Pandu, 4) idem foto 1, 5) idem foto 1, 6) idem foto 2, 7) bersama mas Teguh

9. Keberangkatan menuju Sendai, Jepang

Tepatnya pada tanggal 27 September, saya bertolak ke Negeri Sakura, untuk memulai perantauan panjang nan jauh di negeri orang. Momen-momen yang sempat menguras emosi tersebut masih terngiang-ngiang hingga sekarang, khususnya saat momen-momen pamit dan "salim" perpisahan ke Ibu dan Bapak dan kakak. Momen tersebut menandai permulaan perjalanan ini dan tentunya selalu menjadi pengingat akan tujuan utama mengapa saya berada di sini. Cerita saat momen keberangkatan ini, saya tuliskan juga di postingan sebelumnya.

10. Mengawali perjuangan studi S2

Kedatangan yang cukup berkesan, mengawali kehidupan baru saya di Sendai, Jepang. Di awal-awal kedatangan, saya harus tinggal langsung di apartemen, instead of tinggal di dormitory kampus yang secara umum disediakan untuk mahasiswa baru, khususnya foreign student. Namun, justru disitulah awal dari semua kemudahan-kemudahan Allah untuk saya. Mulai dari keberuntungan pertama dengan mendapatkan keluarga baru, sesama pelajar Indonesia yang tinggal satu apartemen dengan saya, yang telah banyak membantu saya dalam bertahan di awal; hingga bantuan yang lebih dari cukup dari kawan-kawan mahasiswa Indonesia yang lain untuk memfasilitasi saya dalam mendapatkan barang-barang isi apartemen, yang kondisi awalnya kosongan, serta barang-barang lainnya seperti sepeda dan lain sebagainya. Dan tentunya banyak lagi hikmah dan kemudahan yang diberikan-Nya dalam masa-masa awal saya di Sendai.
Momen bersama seluruh personil Lab. beserta pendahulu-pendahulunya
Kebersamaan bersama keluarga PPIS (Persatuan Pelajar Indonesia di Sendai)

Pun juga, awal-awal kehidupan sehari-hari saya baik itu kegiatan keseharian maupun kegiatan akademik, menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi saya, yang sebelumnya belum pernah ke luar negeri ini. Proses adaptasi, hingga sekarang, masih berjalan. Adaptasi dalam segala hal, mulai dari cuaca, iklim, surviving sehari-hari (memasak dlsb), dan penyesuaian dengan lingkungan akademik yang lebih ketat dibandingkan di Indonesia, menjadi agenda utama saya di awal-awal periode saya tinggal di Sendai ini. Namun semuanya terasa menyenangkan dan nikmat, karena keberadaan kawan-kawan Indonesia yang jumlahnya cukup banyak, yang setidaknya masih ada tempat untuk sharing dan saling bantu membantu -dengan cara yang tak tergantikan dibandingkan dengan interaksi pertemanan kita dengan kawan baru mahasiswa asing.

Thanks buat teman-teman yang telah banyak membantu selama ini!

Sudah semestinya waktu akan berjalan tanpa henti dan tahun demi tahun akan terlewati. Hingga yang kita rasakan adalah penuaan secara umur dan perubahan demi perubahan selama itu. Waktu yang tak pernah menawarkan penangguhan akan selalu rela mengadili kita yang kadang tak sadar akan betapa berharganya waktu demi waktu yang semakin kencang berlari. Maka, tak ada alasan untuk mengelak bagi kita, untuk memanfaatkannya secara baik dan semaksimal mungkin, senantiasa menanam benih kebaikan dan membuat sisa waktu kita menjadi lebih berarti untuk kehidupan jauh kedepan nanti.  

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe