Menilik Kembali Cerita (1)

April 08, 2018




Di saat-saat ketika saya telah menginjak umur hampir 24 tahun di bulan Mei ini, entah mengapa, saya merasa bahwa kejadian-demi kejadian memiliki hubungan erat dengan pembelajaran-pembelajaran masa lalu. Terutama saat-saat kita berperan menjadi diri sendiri dalam berbagai keadaan dan bagaimana seharusnya memposisikan diri dengan sebaik-baiknya di tengah berbagai macam lingkungan sosial. Semakin bertambah umur, nampaknya merupakan sebuah keniscayaan jika kita mengalami perkembangan dalam pola pikir menuju kedewasaan. Secara sadar maupun tak sadar kita telah tumbuh dan menjadi pribadi yang lebih matang dari masa ke masa.


Setiap fase pertumbuhan diri sudah pasti mempunyai ciri khas dan tahapannya masing-masing, seperti, bagaimana kita melihat perbedaan pola pikir saat kita SMA dan saat ini. Terhadap suatu hal yang sama, respon dan ekspresi kita bisa berbeda 180 derajat. Pernah ga sih kalian baca status-status jadul kalian (bagi yang punya sosial media sejak SMP atau SMA)? Sempat pakai huruf besar kecil, atau kombinasi huruf dan angka? atau menyingkat "aku" dengan "aq" ataupun sejenisnya?
Ya, you know lah. Atau kalian termasuk yang tak pernah mengalaminya? Kalau iya, baguslah kalau gitu, haha. Tapi nampaknya sebagian besar dari kita pasti pernah mengalami itu. Seperti halnya sahabat-sahabat grup menulis saya INKSPIRATIONS yang ternyata mereka juga mengalami zaman kealayaan yang sama dengan namun dengan tipikal dan tingkatan yang berbeda-beda. Jadi ceritanya beberapa hari terakhir ini kita sedang terlibat dalam nostalgia yang seru, kocak dan menggelikan, dengan membombardir grup dengan screenshot status FB dan Twitter zaman alay SMA, atau apapun zaman itu namanya. Seketika grup menjadi ramai, ketika kita mendapati diri kita pernah melalui masa alay dan menertawakan status ‘jadul’ diri sendiri atau satu sama lain. Entah berhubungan dengan romansa zaman SMA atau sekedar curhat di sosmed saat sedih, galau ataupun terpuruk. Bentuk ekspresi kita kala itu bisa jadi sangat menggelikan bagi kita yang membacanya kembali saat ini. Hingga mungkin timbul pertanyaan, apa kira-kira yang saat itu saya pikirkan sampe bikin status seperti itu? Kadangkala gap antara pola pikir dulu dan kini teramat jauh, hingga kita tak menemukan alasan yang pas terhadap ekspresi dan gejolak jiwa muda kala itu, haha. Waktu nampaknya membuat kita berubah menjadi diri kita saat ini. Dan nampaknya itu akan tetap berlanjut hingga entah kapan waktunya nanti, sampai kita juga akan menertawakan diri kita saat ini nanti. Atau bahkan saya akan banyak menertawakan tulisan-tulisan di blog ini nantinya. Bisa jadi. Haha.


Momen-momen ketika menengok kembali postingan di grup menulis saya beberapa hari terakhir ini, nampaknya pas banget dengan apa yang saya ingin tuliskan di periode menulis INKSPIRATIONS kali ini. Ketika saya semakin merasakan beberapa perubahan pada diri saya sendiri di umur menjelang 24 ini, yang harapannya merupakan perubahan menjadi lebih baik. Beberapa fase telah saya lalui sejak fase berpindah-pindah tempat tinggal dari kecil hingga SMP, dan fase pendidikan tinggi yang mengharuskan saya tinggal mandiri jauh dari orang tua, hingga saat ini dimana saya tinggal lebih jauh lagi menuntut ilmu di negeri Orang. Semua pengalaman tersebut mengajarkan kepada saya banyak hal, yakni buah dari pendengaran, penglihatan, dan penyerapan ilmu dari orang lain dan lingkungan sekitar. Kini, sedikit demi sedikit hasilnya telah dapat dipetik dan digunakan untuk bekal dalam masa-masa pencarian karakter yang nyatanya masih berjalan hingga penghujung umur 23 ini.


Sejak kecil saya dibesarkan di lingkungan Jawa dengan keluarga yang sangat "nJawani", jauh dari pola pergaulan kota besar dengan segala kemajuannya. Seiring tumbuh dewasa, lingkungan keluarga telah membentuk saya menjadi seorang yang tidak terlalu neko-neko, sederhana, namun tetap harus berprestasi.  Saya ingat, ketika kelas 5 SD saya sempat bersekolah di SDN 1 Licin namanya, sebuah SD di pelosok lereng gunung Ijen Banyuwangi. Saat itu saya menjadi perwakilan satu-satunya pada beberapa lomba sekaligus dalam satu waktu. Bukan karena paling pintar, tapi memang karena pilihan murid yang bisa bersaing dalam lomba hanya sedikit, dan kesempatan itu jatuh pada saya. Haha.  Saya ingat betul, ketika baru jadi murid pindahan dan dalam jangka waktu setahun, kemudian sedikit mengangkat prestasi SD kecil tersebut bersama beberapa kawan-kawan dalam lomba tingkat kecamatan dan kabupaten. Sebenarnya dari segi fasilitas dan akses cukup terbatas dan persaingan di dalam kelasnya sendiri sebenarnya sangat tidak ketat. Sebagian besar kawan-kawan SD tumbuh di lingkungan menengah ke bawah, yang tak sedikit yang kemudian putus sekolah setelah SD dan langsung kerja lalu kemudian menikah. Mungkin kalau saya temui mereka saat ini, sebagian mungkin sudah punya anak dua atau tiga. Haha. Anyway, dari cerita saat saya SD kala itu, saya bisa katakan bahwa orang tua saya telah mendidik saya dengan sangat baik saat itu, dan tumbuh di tengah kesederhanaan-kesederhanaan yang ada.


Dari SD hingga SMP kelas 2 saya telah beberapa kali berpindah domisili, mulai dari Kediri, Bondowoso, Banyuwangi dan yang terakhir Ngawi. Dari sekian banyak perjalanan tersebut saya telah banyak belajar tentang membangun hubungan sosial dengan orang-orang baru, yang sebenarnya agak bertolak belakang dengan sifat dasar saya (yang menurut saya) pemalu dan minderan (self-judgment, wkwk). Namun pada akhirnya saya dapat melaluinya dengan baik, walaupun sempat mengalami masa-masa sulit dan sempat tak nyaman di sebuah lingkungan pertemanan. Yakni saat saya masuk SMP kelas satu di SMPN 1 Giri. Saat itu saya menjadi ketua Kelas setelah memang beberapa kali selalu ditunjuk menjadi ketua kelas sejak kelas 4 – 6 SD. Saat saya masuk SMP, itulah saat pertama kalinya saya bersekolah di ‘Kota’ dan SMP tersebut notabene merupakan salah satu SMP terfavorit di Banyuwangi. Pertama kalinya pula saya berada di lingkungan dengan segala background yang sebagian besar dari keluarga menengah ke atas yang ternyata somehow jauh lebih keras. Saya yang masih sangat ‘polos’ dan bukan termasuk anak pemberani harus menjadi ketua kelas yang di dalamnya anak-anak dengan karakter dan background bermacam-macam, binneka tunggal ika, bahkan beberapa diantaranya sudah terbiasa dengan perkelahian antar kelas, dan keluar masuk BK. Saya saat itu tetap menjadi Vempi yang moderat dan cinta damai harus beberapa kali nyaris menjadi korban perkelahian yang awalnya hanya ingin melerai pertengkaran dan tidak tahu apa-apa, haha. Sampai-sampai di suatu momen, saya terlibat dalam curhatan salah seorang kawan yang sama-sama merantau dari desa, yang sama-sama mengeluhkan betapa beratnya sekolah di Kota bersama anak-anak ‘kota’. Hingga sempat dia putuskan untuk pindah sekolah, namun tampaknya urung. Justru saya yang akhirnya harus pindah duluan setelah hanya satu semester menjadi siswa SMPN 1 Giri, karena bapak dipindah tugaskan ke Ngawi.


Setelah pindah ke Ngawi, rasanya seperti benar-benar berada kembali di tanah Jawa, dimana memang asal dari Ibu saya. Keluarga kami terutama ibu memang lebih mewarisi darah Jawa tengahan, karena Ngawi terletak di perbatasan Jawa timur dan Jawa tengah dekat kota Solo. Kota Ngawi yang memang tak lebih se’kota’ Banyuwangi, semakin menularkan karakter Jawa halus pada darah seorang Vempi. Cukup bertolak belakang dari budaya Osing Banyuwangi, Ngawi lebih halus dan masyarakatnya lebih tradisional. Itu bisa saya rasakan saat beberapa hari menghirup suasana di kota itu, dan mendapati perbedaan yang cukup signifikan dari sebelum-sebelumnya. Bisa dikatakan, jika hidup di kota Ngawi, kemungkinan hidup anda lebih nyaman dan tenteram lebih besar adanya. Hehe.


Tahap pertumbuhan dan perkembangan remaja saya lalui di Kota tersebut. Banyak orang bilang, masa SMP dan SMA adalah masa-masa ABG yang seseorang pasti akan melalui masa pencarian jati diri. Di kota itulah saya melalui masa-masa pembelajaran saya sebagai seorang remaja, yang pasti akan dipengaruhi oleh karakter lingkungan sekitar. Di masa SMP, saya banyak mengalami banyak hal, mulai dari yang baik sampai yang buruk. Saya tidak bisa memungkiri, di saat SMP lah saya sedikit terjangkit pengaruh yang bisa saya katakan cukup negatif, sebuah kenakalan remaja pada umumnya. Namun, dengan background karakter hasil bentukan keluarga sebelumnya, saya tetap menjadi Vempi yang cukup tak neko-neko dan fokus meneruskan budaya berprestasi. Terbukti dengan peringkat kelas yang cukup baik, dan di kelas dua saya berhasil masuk di kelas unggulan. Hingga akhirnya saat di kelas tiga, Saya dipilih kembali menjadi ketua kelas setelah kelas rehat dua tahun sejak pindah dari Banyuwangi. Sekali lagi pertimbangan pemilihan ketua kelas kali ini merupakan pertimbangan subjektif dari yang kadang-kadang cukup tak berdasar, atau bahkan disodorkan karena yang pada ga mau. Biasa budaya Indonesia. haha.


Bersambung...

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe