Perburuan Beasiswa: Samsung Scholarship (Bagian 1)

Februari 19, 2017



Halo, selamat datang kembali di blog ini. Kali ini saya ingin melanjutkan postingan saya tentang beasiswa. Dalam tema kali ini, saya ingin bercerita tentang pengalaman-pengalaman saya selama berburu beasiswa selama kuliah S-1 hingga sekarang. Karena sepertinya akhir-akhir ini topik beasiswa menjadi salah satu trending topic di kalangan para pelajar dan mahasiswa. 
Semoga bermanfaat dan cukup memberi pencerahan bagi kalian yang sedang berusaha mendapatkan beasiswa.

Oke, di postingan yang ke-dua ini saya ingin berbagi cerita saat saya berjuang mendapatkan salah satu beasiswa S-1, Beasiswa PT. Samsung Electronics. Beasiswa Samsung merupakan salah satu program CSR dari PT. Samsung Electronics Indonesia yang berupa bantuan dana pendidikan untuk mahasiswa-mahasiswa di Indonesia. CSR PT. Samsung Electronics Indonesia lebih difokuskan ke pengembangan pendidikan tinggi di Indonesia. Berdasarkan yang saya tahu, Universitas sasaran beasiswa ini dari tahun ke tahunnya selalu berbeda, tergantung kebijakan dari PT. Samsung Electronics Indonesia. Namun dari beberapa tahun penyelenggaraan Beasiswa ini, sepertinya Samsung lebih memilih untuk memberikan beasiswa untuk mahasiswa Fakultas Teknik dan Ekonomika Bisnis. Nah, terus gimana untuk jurusan dan fakultas yang lain? Tenaaang masih banyak kok beasiswa yang lain. Dalam tulisan ini saya lebih menceritakan pengalaman saya secara general. Karena menurut saya yang namanya berburu beasiswa itu dimana-mana sama. Paling-paling tahap awal adalah tahap seleksi administrasi, terus lanjut seleksi wawancara, udah, pengumuman. Paling biasanya ditambahkan ada seleksi berupa presentasi. Rata-rata hampir sama kok (menurut saya lho, hehe). Yang membedakan antara satu dengan yang lainnya adalah seberapa tingkat kompetitif beasiswa itu. Ada beasiswa yang untuk seluruh mahasiswa Indonesia, dari sabang sampai Merauke. Kan jelas-jelas beasiswa yang seperti itu pasti banyak yang daftar dan saingannya bakal ribuan bahkan ratusan ribu, sedangkan yang diambil hanya puluhan. Kan otomatis peluangnya jadi semakin sempit dan sengit. Beda dengan beasiswa yang hanya untuk satu universitas atau bahkan hanya untuk beberapa fakultas saja di satu universitas. Pastinya dari segi jumlah saingannya saja sudah berbeda. Bisa jadi semakin sempit lingkup sasaran peserta beasiswa, maka semakin besar pula peluang kita mendapatkannya. Tinggal dihitung saja perbandingan antara potensi pendaftar dan yang diterima. Oh ya satu lagi, dalam tulisan ini mungkin juga bisa diterapkan untuk beasiswa-beasiswa lain ya, yaa setidaknya nilai-nilai apa yang harus jadi pegangan selama berburu beasiswa. Entah berhubungan atau engga, mohon diambil hikmahnya saja.Hehe.

Oke, jadi ceritanya 4,5 tahun yang lalu saya adalah mahasiswa baru di salah satu universitas tertua di Indonesia. Yaps, UGM. Nah, seperti ekspektasi mahasiswa baru pada umumnya, yang masih berada dalam hegemoni dan euforia baru diterima kuliah, pasti membayangkan bahwa nantinya akan menjadi mahasiswa yang berprestasi, dapat beasiswa, IPK cumlaude, jadi asisten dosen, aktif organisasi dan baaanyak lagi lainnya. Setidaknya semangat saya sebagai seorang Maba pada waktu itu sangatlah baik sebagai permulaan. Karena dari harapan-harapan dan mimpi itu, secara tak sengaja, dan secara tak sadar di masa depan bisa terwujud lho. Berawal dari situ saya mencoba menduplikasi apa yang disampaikan oleh kakak-kakak senior saat ospek. Yaitu dengan menuliskan mimpi dan target terukur setidaknya selama 4 tahun kedepan. Salah satu poin mimpi saya adalah bisa mendapatkan beasiswa saat kuliah, saat itu saya belum kepikiran untuk membuatnya lebih spesifik. Pokoknya suatu saat ingin mendapatkan beasiswa agar setidaknya bisa mengurangi beban orang tua.

Nah, singkat cerita, mulai dari Maba sampai awal semester 3 saya belum juga mendapatkan peluang pendaftaran beasiswa, karena untuk mahasiswa semester 1 dan 2 ternyata belum banyak ada tawaran beasiswa. Hanya ada beasiswa PPA dan BBM dari universitas, dan itu hanya untuk satu semester. Kemudian, pada suatu hari (halah), secara tidak sengaja, saya berpapasan dengan kawan sejurusan saya yang baru saja turun dari lantai 3 bagian administrasi KPFT (Kantor Pusat Fakultas Teknik UGM). Saat saya tanya,  dia baru saja mengurus pendaftaran beasiswa Samsung. "Beasiswa Samsung?, emang ada ya?" Saat itu langsung saya cek via website Fakultas, dan ternyata benar, sedang dibuka pendaftaran beasiswa PT. Samsung Electronics yang hanya untuk mahasiswa Fakultas Teknik dan Fakultas Ekonomika dan Bisnis saja. Namun, setelah saya cek, ternyata deadline pengumpulan berkas administrasi tinggal dua hari lagi dan saya saat itu belum sama sekali menyiapkan berkas barang satupun.

Setelah mempertimbangkan, akhirnya saya nekat untuk menyiapkan berkas-berkas dalam hanya waktu efektif dua hari. Memang sebenarnya syarat yang dibutuhkan tidak terlalu banyak. Tapi yang menurut saya akan memakan waktu banyak adalah surat rekomendasi dari Pak Wakil Dekan dan transkrip nilai dari jurusan. Dan saya rasa pada waktu itu dalam dua hari tidaklah cukup.

Setelah selesai dengan formulir, karena hanya tinggal diisi saja. Saya lanjutkan dengan mengurus transkrip nilai dari jurusan dan mengajukan surat rekomendasi ke Pak Wakil Dekan. Masih ingat dengan teman saya yang saya jumpai sebelumnya? Nah teman saya itu sebenarnya telah mengurus lebih awal daripada saya, bahkan satu-dua hari sebelum saya. Tapi setelah menunggu surat rekomendasi yang tak kunjung jadi akhirnya dia memutuskan untuk tidak melanjutkan mengurus pengajuan pendaftaran. Sedangkan saya yang lebih telat daripada dia masih nekat saja menunggu surat rekomendasi.

Setelah menunggu dua hari, tepat pada hari deadline, saya cek ke bagian administrasi, dan ternyata surat belum jadi. Yang dalam arti kata lain, mustahil saya mengumpulkannya pada sore hari itu. Setelah dikonsultasikan, memang dikarenakan Pak Wakil Dekan sedang keluar kota, maka beberapa surat administrasi belum bisa di ACC, termasuk surat rekomendasi saya dan kawan-kawan yang lain. Hingga akhirnya pada hari itu saya benar-benar telah melewati deadline yang ditentukan.

Keesokan harinya, saya konsultasikan lagi ke pihak Staff fakultas, kata beliau pihak fakultas sudah tidak menerima lagi dokumen pengajuan beasiswa Samsung, karena semua dokumen sudah diserahkan ke Dirmawa Rektorat. Kata beliau, jika memang masih mau mengumpulkan, datang saja ke rektorat langsung dan memohon izin untuk mengumpulkan berkas walaupun sudah telat. Walaupun awalnya kaget dan cukup kecewa, namun dari situ saya agak lega karena setidaknya masih ada harapan pada pihak dirmawa Rektorat yang masih bisa menerima berkas pengajuan beasiswa saya yang sudah melewati batas waktu yang ditentukan. Akhirnya pada hari itu saya memutuskan untuk tetap mengajukan berkas ke rektorat langsung walaupun sudah lewat dari deadline, sembari menunggu surat jadi. Hingga keesokan harinya. Setelah saya cek ke fakultas, alhamdulillah surat rekomendasi sudah jadi. Setelah itu langsung saja saya bergegas ke rektorat dan mengumpulkannya langsung ke Dirmawa. Setelah sampai dengan tergopoh-gopoh saya menemui salah satu ibu staf dirmawa, memohon izin untuk mengumpulkan berkas Beasiswa Samsung dan menyampaikan dengan cukup panjang lebar alasan mengapa bisa telat. Setelah selesai dengan penjelasan saya, tak disangka, tanggapan ibu tersebut sangat ringan dan terdengar menenangkan hati yang saat itu masih panik dan khawatir berkas yang sudah disiapkan selama ini ditolak mentah-mentah oleh petugas. “Iya mas, saya terima. Tidak apa-apa. Kalau saya yang penting mahasiswa itu semua bisa dapat beasiswa. Kalaupun nanti tidak masuk di beasiswa yang ini (red: Beasiswa Samsung) nanti juga di rekomendasikan untuk dapat beasiswa yang lain kok.” MasyaAllah, saat itu saya sangat lega dan cukup bahagia mendengar tanggapan dari beliau, Alhamdulillah. Sayapun juga mengucapkan terimakasih kepada beliau, Ibu Fatchi atas kesediannya menerima berkas saya walaupun sudah lewat dari deadline. Mungkin bahkan saya adalah peserta terakhir yang berkasnya masuk di dirmawa. Hehe.

Setelah beberapa minggu tidak ada kabar lanjutan dari pihak dirmawa tentang pengumuman tahap selanjutnya. Tiba-tiba sekitar jam 18.30 WIB saya ditelpon oleh ibu Fatchi yang intinya saya diminta untuk menyiapkan presentasi yang topiknya tentang “Mengapa Samsung harus memilih saya”. Dan yang membuat lebih kaget lagi adalah presentasi akan dilaksanakan tiga hari setelah hari itu, yang dimana saya harus menyiapkan presentasi hanya dalam dua-tiga hari efektif saja. Saat itu bercampur antara senang dan bingung apa materi yang bisa disiapkan untuk tahap presentasi nanti, dimana itu bisa jadi sangat menentukan apakah saya berhak mendapatkan beasiswa itu atau tidak. Bismillah, mulai saat itu saya persiapkan presentasi sesuai apa yang ada dalam pikiran saya.

Terkait topik yang diberikan menurut saya memungkinkan peserta untuk menyiapkan topik seluas mungkin. Karena perspektif masing-masing pasti berbeda. Pasti ada yang berpikiran bahwa yang harus ditampilkan adalah sebuah gagasan, ide, karya besar, ataupun sekedar menceritakan semua hal tentang  diri sendiri, mulai dari hobi, kelebihan, bakat atau sedikit tentang prestasi? Atau bahkan sekedar bercerita apa yang selama ini dilakukan selama kuliah? Banyak hal memang yang bisa dieksplor dari topik “Mengapa Samsung harus memilih saya” tersebut. Dan saya pada waktu itu lebih memilih untuk sekedar memperkenalkan diri saya, termasuk hobi, kegiatan organisasi di luar kuliah, minat dan beberapa karya sederhana yang berhubungan dengan hobi dan minat saya. Hanya itu. Bahkan saya tidak menjelaskan banyak tentang ide dan gagasan yang saya punya.

Hari-H tiba, saya mendapatkan giliran terakhir presentasi. Mungkin karena berkas saya masuk terakhir. Haha. Dan saat itu saya mencoba tanpa ada beban sedikitpun, karena bahan yang saya presentasikan adalah diri saya sendiri. Yang pasti, saya sudah sangat kenal betul dengan diri sendiri, bukan? Dengan sedikit polesan animasi hasil editing saya menggunakan software Corel Draw dan animasi menggunakan Powerpoint. Saya pun menampilkan presentasi saya dihadapan manajer dan staff CSR PT. Samsung Electronics Indonesia. Memang dalam slide saya, saya buat sesuai dengan hobi dan minat saya. Dengan background seorang mahasiswa Teknik Sipil yang cukup mempunyai ketertarikan di bidang Desain Grafis, presentasi saya buat sedemikian rupa sehingga cukup identik dengan saya, plus penjelasan-penjelasan ringan tentang kegiatan saya di-kampus dan beberapa karya-karya. Simpel dan seolah waktu presentasi seperti ngobrol dan bercerita kepada beliau-beliau. Beberapa kali pewawancara juga request untuk menampilkan lebih terkait karya-karya yang sudah saya buat pada folder laptop. Presentasi berlangsung sekitar 20-30 menit dan diakhiri dengan beberapa tanya jawab ringan dari pewawancara yang lebih ditujukan pada personal. Setelah selesai saya cukup lega, karena ternyata suasana saat presentasi tidak seperti yang saya kira, cukup santai dan suasananya cukup friendly. Mungkin karena beliau-beliau juga masih cukup muda, kali ya? Jadi suasananya terbawa enjoy dan rileks. Hingga akhirnya kita dikumpulkan dalam satu ruangan untuk briefing akhir.

Saat briefing baru dijelaskan terkait dengan nominal, rincian biaya apa saja yang diberikan, jangka waktu beasiswa, dan apakah ada ikatan dinas atau tidak. Saat itu pula kami baru mengetahui kalau ternyata beasiswa Samsung merupakan beasiswa Full Scholarship hingga lulus, meliputi semua biaya kuliah (SPP dan BOP/SKS) serta biaya hidup per-bulannya. Dan satu hal yang membuat cukup kaget adalah besaran tunjangan hidup yang diberikan tiap bulannya, yakni sebesar Rp. 1250.000 per bulan. Untuk ukuran beasiswa S-1, jumlah tersebut termasuk yang paling besar dibandingkan dengan beasiswa lainnya. Memang pada pengumuman awal di website tidak dicantumkan sama sekali informasi terkait beasiswa, yang ada hanya persyaratan apa saja yang disiapkan. Selain itu, ada pula yang bertanya apakah ada kegiatan yang harus kami ikuti jika telah resmi menjadi penerima beasiswa. Kemudian dengan santai, beliau manager CSR menjawab ”Tidak ada, memang dari kami tidak menyiapkan kegiatan-kegiatan follow up untuk penerima beasiswa”. Kami pun kembali terkaget jika ternyata tidak ada satupun kegiatan yang harus kami ikuti setelah menjadi penerima beasiswa, sedangkan jika kita bandingkan dengan beasiswa yang hampir setara seperti beasiswa Jarum dan Tanoto Foundation, mereka para penerima beasiswa diwajibkan untuk mengikuti agenda rutin. Bahkan saya lihat beberapa kali ada yang bahkan tidak masuk kuliah karena tengah mengikuti kegiatan dari sponsor beasiswa. Nah lho.

Sejak sore itu, kami masing-masing hanya bisa berdoa sembari menunggu pengumuman yang keputusannya ada di pihak Samsung dan mungkin juga sekian persen berdasarkan pertimbangan Pihak UGM atau dalam hal ini Dirmawa.

Setelah beberapa minggu kemudian, salah seorang teman saya Evan yang juga mendaftar beasiswa Samsung, mengabarkan bahwa telah diumumkan 10 penerima beasiswa PT. Samsung Scholarship  di Website Dirmawa. Sayapun yang saat itu juga kebetulan berada di kampus, segera menyalakan laptop dan connect ke wifi kampus dan segera membuka website dirmawa. Dan…
Alhamdulillah, atas rezeki Allah saya termasuk salah satu dari 10 orang penerima Beasiswa PT. Samsung Scholarship Universitas Gadjah Mada. Pun juga teman saya evan yang memberitahu saya sebelumnya, dia juga termasuk dalam 10 orang tersebut.


Lagi-lagi ada di urutan terakhir  :D
  



You Might Also Like

2 komentar

  1. Hallo kak, saya suka baca pengalaman kakak di blog ini, sangat bermanfaat. Kak saya mau tanya, kan di persyaratan beasiswa samsung electronocs mahasiswa harus mendapatkan surat keterangan tidak mampu. Dan sedangkan orang tua saya merupakan seorang guru(PNS). Apakah masih memungkinkan bagi saya untuk mendaftar beasiswa ini. Terimakasih sebelumnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih banyak Vinifa sudah mampir di blog ini.
      Menjawab pertanyaan di atas.
      Untuk persyaratan beasiswa samsung (saat saya mendaftar dulu), sepertinya bukan berupa surat keterangan tidak mampu, tapi hanya ketarangan penghasilan orang tua saja, dengan dibuktikan copy slip gaji (untuk Pegawai).
      Dan juga tidak ada syarat khusus terkait nominal penghasilan orang tua. Jadi artinya siapapun dengan gaji orang tua berapapun bisa banget mendaftar.
      Kalau ada kesempatan dicoba saja, tidak terbatas hanya beasiswa tsb saja, tapi juga untuk beasiswa lainnya juga ya.
      Semangat.

      Hapus

Subscribe